lonjakan harga plastik

Gangguan Pasok Global Picu Lonjakan Harga Plastik di Pasar

Bahasa Kita – Lonjakan harga plastik di pasar domestik dalam beberapa waktu terakhir dipicu gangguan rantai pasok global, yang berdampak langsung pada distribusi bahan baku dan memicu kenaikan harga di tingkat pedagang.

Tekanan ini tidak muncul secara tiba-tiba. Konflik di Timur Tengah dan gangguan industri petrokimia global disebut menjadi pemicu utama tersendatnya pasokan bahan baku plastik ke berbagai negara, termasuk Indonesia.

Anggota Komisi VI DPR Fraksi Golkar Firnando Ganinduto menilai situasi ini menunjukkan ketergantungan tinggi terhadap pasokan luar negeri. Ia menyebut lonjakan harga plastik sebagai sinyal terganggunya sistem distribusi bahan baku.

“Kenaikan harga yang dipicu gangguan rantai pasok global dan industri petrokimia ini tidak hanya meningkatkan biaya produksi,” kata Firnando, Senin (6/4/2026).

Rantai Pasok Global Tersendat, Distribusi Terganggu

Dalam konteks tersebut, lonjakan harga plastik tidak bisa dilepaskan dari masalah hulu. Pasokan bahan baku yang bergantung pada impor membuat distribusi dalam negeri mudah terdampak gejolak global.

Gangguan di negara produsen menyebabkan aliran bahan baku melambat. Dampaknya terasa hingga ke pasar domestik, terutama pada sektor perdagangan yang bergantung pada pasokan rutin.

Firnando menilai, kondisi ini memperlihatkan celah dalam sistem distribusi nasional. Ketika pasokan terganggu, mekanisme pasar langsung merespons dengan kenaikan harga.

Di sisi lain, pengawasan distribusi dinilai belum optimal. Hal ini membuat fluktuasi harga sulit dikendalikan dalam waktu singkat.

Ketergantungan Impor Perkuat Tekanan Harga

Lebih jauh, ketergantungan terhadap bahan baku impor memperbesar dampak gangguan global. Dalam praktiknya, pelaku usaha di dalam negeri tidak memiliki alternatif cepat ketika pasokan tersendat.

Firnando menekankan pentingnya penguatan industri petrokimia dalam negeri. Langkah ini dinilai dapat mengurangi tekanan dari luar dan menjaga stabilitas distribusi.

Selain itu, percepatan pengadaan bahan baku impor juga dianggap perlu. Kerja sama langsung dengan negara produsen dapat menjadi solusi jangka pendek untuk menutup kekurangan pasokan.

Harga di Pasar Naik Bertahap Sejak Februari

Di tingkat pasar, lonjakan harga plastik terjadi secara bertahap sejak akhir Februari 2026. Dewan Pengurus Pusat Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) mencatat kenaikan mencapai 50 persen dari kondisi normal.

Sekretaris Jenderal DPP IKAPPI Reynaldi Sarijowan menjelaskan, kenaikan tidak terjadi sekaligus, melainkan naik perlahan dalam hitungan pekan.

“Jauh sebelum memasuki Ramadhan itu masih 10.000. Kemudian bertahap naik Rp 500, Rp 700, sampai hari ini puncaknya di 50 persen,” ujar Reynaldi.

Harga kantong plastik yang sebelumnya Rp 10.000 kini mencapai Rp 15.000. Kenaikan ini menunjukkan tekanan distribusi yang terus berlanjut tanpa jeda signifikan.

Dalam realitas di lapangan, pedagang menjadi pihak yang pertama merasakan dampaknya. Biaya yang meningkat membuat rantai distribusi ikut terdorong naik hingga ke tingkat konsumen.

Firnando menilai pemerintah perlu menjaga keseimbangan pasar melalui koordinasi lintas kementerian. Ia juga mendorong langkah cepat untuk memastikan distribusi bahan baku tetap lancar agar lonjakan harga plastik tidak terus berulang.