Kesejahteraan OjolKesejahteraan Ojol

Bahasa Kita – Kebijakan pemangkasan potongan platform OJOL menjadi maksimal 8 persen dinilai tidak hanya berdampak pada penghasilan pengemudi, tetapi juga berpotensi mengubah arah bisnis perusahaan transportasi digital di Indonesia.

Lewat Peraturan Presiden Nomor 27 Tahun 2026, pemerintah memangkas komisi aplikator dari sebelumnya 20 persen menjadi maksimal 8 persen.

Kebijakan tersebut disambut positif banyak pengemudi karena dianggap memberi ruang pendapatan lebih besar di tengah tekanan biaya hidup.

Namun di balik itu, platform digital diperkirakan akan mulai menggeser fokus bisnis mereka ke sektor lain yang lebih menguntungkan.

Yang patut dicatat, layanan OJOL motor selama ini disebut bukan lagi sumber keuntungan utama perusahaan aplikasi.

Dalam perkembangan selanjutnya, OJOL justru diposisikan sebagai pintu masuk untuk menjaga pengguna tetap aktif membuka aplikasi setiap hari.

Platform OJOL Diprediksi Fokus ke Bisnis Ekosistem Digital

Data tersebut menyebut platform digital kemungkinan akan mempercepat transformasi menjadi perusahaan ekosistem digital sepenuhnya.

Layanan OJOL roda dua dinilai hanya akan dipertahankan sebagai sarana akuisisi pengguna dan pembentuk kebiasaan harian konsumen.

Ojol motor tak lagi diposisikan di garda terdepan pelayanan utama. Hanya sekadar infrastruktur akuisisi pengguna dan penggerak trafik harian,” tulis analisis tersebut.

Di sisi lain, perusahaan disebut akan lebih fokus pada sektor yang memiliki margin bisnis lebih sehat.

Beberapa layanan yang diperkirakan menjadi prioritas antara lain:

  • Taksi online roda empat
  • Layanan pesan antar makanan
  • Fintech dan pembayaran digital
  • Iklan merchant
  • Logistik
  • Layanan berbasis langganan

Dalam kerangka itu, keberadaan pengemudi OJOL tetap penting untuk menjaga aktivitas pengguna di dalam aplikasi.

Namun, tekanan terhadap pendapatan layanan roda dua dinilai dapat memengaruhi investasi teknologi pada sektor tersebut.

Teknologi dan Bonus Driver Berpotensi Terdampak

Yang jadi sorotan, tekanan bisnis setelah pemangkasan komisi disebut bisa berdampak langsung terhadap kualitas layanan aplikasi.

Investasi teknologi penunjang layanan OJOL dinilai berpotensi diperlambat.

Padahal, sistem ride-hailing membutuhkan biaya besar untuk server, algoritma pencocokan order, keamanan transaksi, hingga layanan pelanggan.

Teknologi pendukung layanan Ojol bisa kedodoran di kemudian hari,” demikian isi analisis tersebut.

Di waktu bersamaan, pengemudi juga dinilai menghadapi risiko baru.

Bonus perjalanan disebut berpotensi berkurang, sementara sistem algoritma aplikasi kemungkinan menjadi lebih ketat.

Selain itu, kompetisi antar-driver diperkirakan semakin tinggi akibat bertambahnya jumlah pengemudi baru setelah komisi dipangkas.

Akibatnya, jumlah order yang diterima tiap pengemudi bisa semakin tidak menentu.

Negara Diminta Jaga Keseimbangan Ekonomi Gig

Meski demikian, data tersebut juga menilai keluhan pengemudi tetap valid.

Banyak driver menghadapi biaya operasional tinggi, ketidakpastian order, dan ketergantungan terhadap platform digital.

Karena itu, negara dinilai tetap perlu hadir memberikan perlindungan dasar bagi pekerja ekonomi gig.

Beberapa hal yang dinilai penting antara lain perlindungan sosial, transparansi algoritma, dan perlindungan dari suspend sepihak.

Namun pada sisi lain, regulasi disebut perlu disusun secara rasional agar tidak mematikan keberlanjutan inovasi digital.

Ekonomi gig yang sehat bukan yang populer secara politik,” tulis analisis tersebut.

Dalam praktiknya, pemerintah diminta tidak menjadikan ekonomi gig sebagai pengganti utama penyediaan lapangan kerja formal.

Sebab sejak awal, model ekonomi tersebut dibangun sebagai pekerjaan fleksibel, bukan sumber nafkah utama masyarakat secara permanen.