Bahasa Kita – Situasi di sekitar Selat Hormuz kembali memanas setelah pesawat Amerika Serikat dan Israel menggempur kapal-kapal Iran di selatan Pulau Larak, Selasa (26/5/2026). Serangan itu dilaporkan menewaskan sejumlah warga Iran.
Kantor berita semi pemerintah Iran, Fars, melaporkan beberapa warga Iran menjadi korban tewas dalam serangan tersebut.
Sementara itu, sejumlah laporan lain menyebut jumlah korban meninggal mencapai empat orang.
Serangan terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat serta Israel dalam beberapa bulan terakhir.
Yang jadi sorotan, operasi militer itu berlangsung saat proses negosiasi damai masih berjalan.
Selat Hormuz Jadi Titik Panas Konflik Iran dan AS
Dalam beberapa hari terakhir, Amerika Serikat dan Israel disebut semakin agresif melancarkan operasi militer terhadap Iran.
Pada Senin sebelumnya, pasukan AS menggempur lokasi peluncuran rudal di dekat Bandar Abbas.
Tak hanya itu, kapal-kapal Iran yang disebut hendak memasang ranjau juga menjadi sasaran serangan.
Serangan tersebut terjadi beberapa jam setelah delegasi Iran tiba di Qatar untuk membahas negosiasi perang.
Dalam rilis resminya, Komando Pusat AS menyebut operasi militer itu sebagai langkah defensif.
“Untuk melindungi pasukan dari ancaman yang ditimbulkan pasukan Iran,” demikian pernyataan militer AS.
Di sisi lain, pejabat senior Amerika Serikat mengklaim rudal Iran mengancam armada perang mereka.
Ancaman itu disebut mengarah ke hampir dua lusin kapal perang Angkatan Laut AS.
Di antaranya termasuk dua kapal induk beserta kapal pengawal di Teluk Oman dan Laut Arab.
Dalam konteks tersebut, kawasan Selat Hormuz kembali menjadi pusat perhatian dunia.
Iran Tutup Selat Hormuz Setelah Serangan AS dan Israel
Konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel terus meningkat sejak akhir Februari lalu.
Pada 28 Februari, Washington dan Tel Aviv lebih dulu menyerang sejumlah target di Iran.
Operasi gabungan itu menyebabkan pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan sejumlah pejabat pertahanan tewas.
Tak berhenti di situ, Iran langsung melancarkan serangan balasan pada hari yang sama.
Iran menyerang wilayah Israel serta aset militer Amerika Serikat di sejumlah negara Teluk.
Dalam perkembangan selanjutnya, Iran juga menutup Selat Hormuz sebagai bentuk tekanan terhadap kedua negara tersebut.
Penutupan jalur laut strategis itu memicu kekhawatiran internasional.
Selat Hormuz selama ini dikenal sebagai salah satu jalur utama distribusi energi dunia.
Yang menarik, eskalasi konflik tetap berlangsung meski jalur diplomasi belum sepenuhnya ditutup.
Negosiasi Nuklir Iran Masih Buntu
Saat ini, Iran dan Amerika Serikat masih mencoba membuka ruang negosiasi damai.
Namun kedua pihak belum menemukan titik temu dalam pembahasan utama.
Amerika Serikat berupaya menghentikan program nuklir Iran secara menyeluruh.
Washington juga mendorong pemindahan uranium Iran yang telah diperkaya.
Namun pada kenyataannya, Iran menolak usulan tersebut.
Pemerintah Iran menilai program nuklir dan pengayaan uranium merupakan kepentingan nasional.
Artinya, isu nuklir tetap menjadi sumber utama ketegangan kedua negara.
Di waktu yang sama, serangan militer di sekitar Selat Hormuz memperlihatkan konflik belum mereda.
Hal krusialnya, operasi militer dan negosiasi kini berjalan bersamaan tanpa kepastian hasil akhir.
