Selat Hormuz ditutup Iran hingga waktu yang belum ditentukan di tengah memanasnya konflik dengan Amerika Serikat. Keputusan ini muncul setelah eskalasi militer terbaru yang melibatkan serangan kedua pihak dan memicu kekhawatiran terhadap stabilitas jalur pelayaran strategis dunia.
Selat Hormuz ditutup Iran menyusul meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat dalam beberapa hari terakhir. Pengumuman tersebut disampaikan Otoritas Selat Teluk Persia Iran atau Persian Gulf Strait Authority (PGSA) melalui platform X pada Kamis (11/6/2026).
PGSA menyatakan seluruh lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz dihentikan untuk sementara waktu. Penutupan berlaku hingga ada pemberitahuan lebih lanjut dari otoritas terkait.
“Karena ketegangan yang dipicu pasukan agresif AS dan pengumuman terbaru Angkatan Bersenjata Republik Islam, Selat Hormuz akan ditutup sepenuhnya,” demikian pernyataan PGSA.
Otoritas tersebut juga meminta seluruh pihak yang telah memperoleh izin transit agar bersabar sambil menunggu perkembangan operasional terbaru.
Ketegangan Iran dan AS Kembali Memuncak
Keputusan Iran menutup Selat Hormuz terjadi sehari setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menuduh Teheran mengulur-ulur proses perundingan.
Trump juga menyatakan niat untuk melancarkan serangan besar terhadap Iran.
Pada saat yang sama, Komando Pusat Militer Amerika Serikat atau CENTCOM mengumumkan telah melakukan serangan terhadap Iran.
Iran kemudian membalas dengan menyerang sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat.
Secara faktual, perkembangan tersebut memperlihatkan eskalasi yang berlangsung cepat dan memperbesar risiko meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah.
Konflik Berawal Sejak Februari
Ketegangan terbaru ini merupakan kelanjutan dari konflik yang pecah sejak 28 Februari 2026.
Saat itu, Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran di Iran, termasuk wilayah Teheran.
Serangan tersebut menyebabkan kerusakan dan dilaporkan menewaskan warga sipil.
Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan ke wilayah Israel serta fasilitas militer Amerika Serikat di Timur Tengah.
Kedua pihak sebenarnya sempat mengumumkan gencatan senjata pada 7 April 2026.
Namun, pembicaraan lanjutan yang berlangsung di Islamabad tidak menghasilkan kesepakatan baru untuk mengakhiri konflik.
Akibatnya, ketegangan kembali meningkat hingga memunculkan kebijakan penutupan Selat Hormuz.
Iran Ancam Jadikan Timur Tengah “Neraka”
Di tengah situasi tersebut, pejabat militer Iran mengeluarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat.
Komandan Angkatan Udara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Seyed Majid Mousavi, menyebut kawasan Timur Tengah dapat berubah menjadi “neraka” apabila Selat Hormuz terus berada dalam ancaman.
“Jika Anda membuat Selat Hormuz tidak aman, kami akan mengubah kawasan ini menjadi neraka bagi Anda dari seluruh wilayah Iran,” kata Mousavi seperti dikutip Mehr News Agency.
Menurutnya, pernyataan itu menjadi respons atas apa yang disebut sebagai keberanian Amerika Serikat di kawasan.
Yang menarik, Mousavi juga menegaskan Iran siap mengambil langkah lebih jauh untuk menjaga keamanan jalur strategis tersebut.
IRGC Klaim Serang Pangkalan Militer AS
Sementara itu, IRGC mengklaim telah menyerang 18 target militer utama Amerika Serikat.
Target tersebut meliputi pangkalan Ali Al Salem dan Ahmad Al Jaber di Kuwait, serta pangkalan Sheikh Isa di Bahrain.
Dalam konteks tersebut, penutupan Selat Hormuz memperlihatkan dampak lanjutan dari memburuknya hubungan kedua negara.
Selain memicu ketidakpastian keamanan, kebijakan itu juga meningkatkan perhatian dunia terhadap stabilitas salah satu jalur pelayaran paling strategis di kawasan Teluk Persia.
