Bahasa Kita – Gelombang panas ekstrem melanda sejumlah negara di Eropa Barat pada awal musim panas 2026. Kondisi cuaca tersebut menyebabkan sedikitnya tujuh orang meninggal dunia di Prancis. Dan heat stroke di duga menjadi salah satu penyebab nya
Melansir laporan The Guardian, Rabu (27/5/2026), suhu tinggi tercatat memecahkan rekor di sejumlah wilayah Eropa.
Prancis bahkan mencatat suhu tertinggi untuk bulan Mei selama dua hari berturut-turut.
Badan cuaca Météo France memperkirakan suhu di beberapa wilayah dapat mencapai 39 derajat Celsius.
Yang jadi sorotan, gelombang panas diperkirakan masih akan berlangsung sepanjang pekan ini.
Panas Ekstrem Picu Korban Jiwa di Prancis
Pemerintah Prancis menyebut lima dari tujuh korban meninggal dunia merupakan kasus tenggelam.
Kasus tersebut diduga berkaitan dengan upaya warga mencari cara mendinginkan diri saat suhu meningkat tajam.
Dalam praktiknya, banyak warga memilih berenang atau mendatangi area perairan untuk menghindari cuaca panas.
Namun pada kenyataannya, kondisi tersebut justru memicu risiko keselamatan baru.
Sementara itu, indeks panas nasional di Prancis tercatat mencapai 24,8 derajat Celsius.
Sebanyak 13 wilayah berada dalam status siaga oranye akibat peningkatan suhu ekstrem.
Yang menarik, ini menjadi pertama kalinya sistem peringatan panas nasional diaktifkan pada bulan Mei sejak diberlakukan pada 2004.
Di sisi lain, otoritas cuaca terus memperingatkan masyarakat terkait potensi peningkatan suhu dalam beberapa hari mendatang.
Panas Ekstrem Meluas ke Inggris dan Spanyol
Gelombang panas tidak hanya terjadi di Prancis.
Inggris juga mencatat suhu tertinggi untuk bulan Mei dengan angka mencapai 35 derajat Celsius di dekat London.
Kondisi tersebut dipicu sistem tekanan tinggi yang menjebak udara panas di wilayah Eropa Barat.
Dalam konteks tersebut, sejumlah negara mulai mengalami lonjakan suhu secara bersamaan.
Di Spanyol, suhu antara 36 hingga 38 derajat Celsius melanda sejumlah lembah utama.
Bahkan beberapa wilayah diperkirakan mencapai suhu 40 derajat Celsius.
Tak hanya itu, Irlandia juga mencatat suhu tinggi hingga 28,8 derajat Celsius.
Hal ini memperlihatkan tren peningkatan suhu yang semakin luas di kawasan Eropa.
Yang kerap luput diperhatikan, lonjakan suhu terjadi lebih awal dibanding pola musim panas biasanya.
Italia Batasi Jam Kerja Saat Cuaca Panas
Italia mengambil langkah pembatasan kerja pada jam-jam terpanas.
Kebijakan tersebut diterapkan terutama untuk sektor pertanian, konstruksi, dan layanan pengiriman.
Pemerintah setempat menilai suhu tinggi dapat meningkatkan risiko kesehatan pekerja lapangan.
Dalam perkembangan selanjutnya, sejumlah negara Eropa mulai memperkuat sistem peringatan cuaca panas.
Para ilmuwan menilai fenomena panas ekstrem saat ini berkaitan dengan perubahan iklim global.
Mereka menyebut gelombang panas kini semakin sering terjadi dan lebih intens dibanding sebelumnya.
Fenomena tersebut dipicu kondisi “heat dome” atau kubah panas.
Kondisi atmosfer itu menjebak udara panas dari Afrika Utara di atas wilayah Eropa.
Akibatnya, suhu tinggi bertahan lebih lama dan meluas ke berbagai negara.
Para ahli juga memperingatkan fenomena serupa berpotensi semakin sering terjadi di masa mendatang.
Kejadian perubahan suhu ekstrem mengakibatkan kematian juga sudah melanda india dengan setidak nya 16 orang meninggal.
Otoritas cuaca memperkirakan gelombang panas masih akan berlangsung di beberapa wilayah Eropa dalam beberapa hari ke depan.
