Doomscrolling menjadi kebiasaan yang semakin sering terjadi di era digital. Aktivitas menggulir berita atau unggahan bernada negatif secara terus-menerus dapat meningkatkan kecemasan, memengaruhi fokus, hingga menurunkan kualitas tidur jika dilakukan tanpa kendali.
Doomscrolling merupakan kebiasaan mengonsumsi berita atau konten bernada negatif secara berulang dalam waktu yang lebih lama dari rencana semula. Menurut laporan Medical Daily yang dikutip pada Jumat, perilaku tersebut membuat seseorang terus mencari informasi yang memicu rasa takut atau cemas meski berdampak pada kondisi psikologis.
Kebiasan ini semakin banyak ditemukan sejak pandemi COVID-19. Saat itu, masyarakat mengandalkan internet untuk memperoleh informasi terbaru sehingga paparan terhadap berbagai berita meningkat secara signifikan.
Dampak Doomscrolling terhadap Kesehatan Mental dan Kualitas Tidur
Peneliti menjelaskan otak manusia secara alami lebih peka terhadap ancaman. Karena itu, seseorang cenderung memberikan perhatian lebih besar pada informasi yang bernada negatif dibandingkan informasi positif. Di era digital, kondisi tersebut membuat sebagian orang terus memeriksa berita yang mengkhawatirkan meski justru meningkatkan tingkat stres.
Selain itu, sebuah studi pada 2022 menemukan bahwa paparan berita terkait COVID-19 dalam intensitas tinggi berkaitan dengan meningkatnya tekanan psikologis. Sementara itu, American Psychological Association menyebut paparan berkepanjangan terhadap berita yang memicu stres dapat meningkatkan kecemasan sekaligus menyebabkan kelelahan emosional.
Doomscrolling juga kerap dilakukan menjelang waktu tidur. Menurut Sleep Health Foundation, penggunaan perangkat digital sebelum tidur dapat menghambat proses relaksasi. Di sisi lain, konten yang memicu emosi membuat otak tetap berada dalam kondisi waspada sehingga seseorang lebih sulit terlelap dan kualitas tidurnya menurun.
Yang menjadi sorotan, berbagai fitur media sosial seperti notifikasi, rekomendasi konten, dan gulir tanpa batas membuat pengguna terdorong terus mencari informasi terbaru. Akibatnya, perhatian mudah berpindah dari satu berita ke berita lain sehingga kemampuan mempertahankan fokus dalam waktu lama ikut terpengaruh.
Untuk mengurangi dampak tersebut, para ahli menyarankan masyarakat membatasi waktu membaca berita setiap hari. Selain itu, hindari mengakses konten yang memicu stres sebelum tidur, matikan notifikasi yang tidak diperlukan, serta manfaatkan waktu luang untuk berolahraga atau bersosialisasi sebagai alternatif mengurangi durasi menatap layar.
