Rupiah melemah 93 poin pada penutupan perdagangan Rabu dan mendekati level Rp18.000 per dolar AS. Pelaku pasar mencermati peluang kenaikan suku bunga The Fed dalam beberapa bulan ke depan.
Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada perdagangan Rabu sore setelah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat.
Berdasarkan data pasar, kurs rupiah turun 93 poin atau 0,52 persen menjadi Rp17.952 per dolar AS.
Posisi tersebut lebih rendah dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.859 per dolar AS.
Pelemahan ini terjadi di tengah meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kebijakan moneter yang lebih ketat dari bank sentral Amerika Serikat.
Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed Tekan Rupiah
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai penguatan dolar AS dipicu meningkatnya keyakinan pelaku pasar bahwa Federal Reserve akan kembali menaikkan suku bunga.
Menurutnya, pertemuan kebijakan terakhir The Fed dan pernyataan sejumlah pejabat bank sentral AS mendorong perubahan ekspektasi investor.
Yang jadi sorotan, pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada September mencapai sekitar 70 persen.
Selain itu, pelaku pasar juga memperhitungkan kemungkinan kenaikan lanjutan pada Desember mendatang.
Dalam praktiknya, ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi biasanya meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar AS dan memberikan tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Ketidakpastian Kesepakatan AS-Iran Jadi Sentimen Tambahan
Selain faktor kebijakan moneter Amerika Serikat, pasar juga mencermati perkembangan hubungan antara Washington dan Teheran.
Ketidakpastian muncul setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan Iran menyetujui inspeksi nuklir tanpa batas.
Namun, pemerintah Iran membantah telah memberikan konsesi seperti yang disampaikan Trump.
Akibatnya, pelaku pasar masih menunggu kejelasan arah hubungan kedua negara tersebut.
Yang menarik, perkembangan geopolitik di Timur Tengah sering memengaruhi pergerakan pasar keuangan dan harga komoditas global.
Penundaan Evaluasi MSCI Beri Sentimen Positif untuk Pasar Domestik
Di tengah tekanan eksternal, pasar Indonesia memperoleh sentimen positif dari keputusan Morgan Stanley Capital International atau MSCI.
MSCI memutuskan memperpanjang proses penilaian aksesibilitas pasar Indonesia hingga November 2026.
Keputusan tersebut muncul setelah sebelumnya terdapat kekhawatiran terkait tingkat aksesibilitas dan investabilitas pasar modal Indonesia.
Faktanya, MSCI sempat membekukan perubahan pada indeks ekuitas Indonesia pada awal tahun karena isu tersebut.
Dengan perpanjangan masa evaluasi, investor masih memiliki waktu untuk menantikan hasil penilaian akhir terhadap kualitas pasar domestik.
Status Pasar Indonesia Masih Jadi Perhatian Investor Global
Menurut Ibrahim, proses evaluasi MSCI akan menjadi salah satu faktor yang diperhatikan investor dalam beberapa bulan mendatang.
Hasil peninjauan tersebut dinilai penting karena dapat mencerminkan persepsi investor internasional terhadap keterbukaan dan efisiensi pasar modal Indonesia.
Selain itu, status aksesibilitas pasar juga berpotensi memengaruhi arus investasi asing ke dalam negeri.
Karena itu, perkembangan evaluasi MSCI menjadi salah satu indikator yang terus dipantau pelaku pasar.
JISDOR Bank Indonesia Ikut Bergerak Melemah
Sejalan dengan pergerakan di pasar spot, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga menunjukkan pelemahan.
Pada perdagangan hari ini, JISDOR tercatat berada di level Rp17.955 per dolar AS.
Angka tersebut lebih rendah dibandingkan posisi sebelumnya yang berada di Rp17.868 per dolar AS.
Dengan kondisi tersebut, pasar keuangan masih akan mencermati perkembangan kebijakan The Fed serta sentimen global lainnya yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan rupiah.
