Bahasa Kita – Nilai tukar rupiah dibuka di level Rp17.600 per dolar AS pada perdagangan Jumat, 15 Mei 2026. Posisi tersebut disebut menjadi titik pelemahan terdalam rupiah sepanjang sejarah di tengah tekanan global yang terus menguat.
Berdasarkan data perdagangan pagi, mata uang Garuda melemah 84 poin atau turun 0,48 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Pengamat pasar keuangan Ariston Tjendra mengatakan level tersebut menjadi rekor terendah baru rupiah terhadap dolar AS.
“Iya, level terendah sepanjang sejarah,” kata Ariston.
Tekanan terhadap rupiah muncul bersamaan dengan menguatnya dolar AS serta meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik Timur Tengah.
Rupiah Tertekan Konflik Timur Tengah dan Data Ekonomi AS
Menurut Ariston, pelemahan rupiah dipicu kombinasi sentimen eksternal yang terjadi secara bersamaan.
Konflik Timur Tengah yang terus memanas membuat harga minyak dunia bertahan di level tinggi dan memicu kekhawatiran pasar global.
Di sisi lain, data ekonomi Amerika Serikat masih menunjukkan kondisi yang solid sehingga memperkuat posisi dolar AS.
“Selain gejolak Timteng dan harga minyak yang masih di level tinggi, ini juga karena data ekonomi AS yang masih bagus sehingga menurunkan peluang Bank Sentral AS untuk memangkas suku bunga acuannya tahun ini,” ujarnya.
Dalam konteks tersebut, pasar mulai memperkirakan suku bunga acuan Federal Reserve atau The Fed akan tetap tinggi lebih lama.
Kondisi itu membuat investor cenderung mempertahankan aset berbasis dolar AS dibandingkan masuk ke pasar negara berkembang.
Data Penjualan Ritel AS Perkuat Dolar Amerika
Ariston menjelaskan data penjualan ritel Amerika Serikat terbaru mengalami kenaikan dibandingkan bulan sebelumnya dan sesuai ekspektasi pasar.
Hal ini memperkuat keyakinan bahwa ekonomi AS masih bertahan kuat di tengah tekanan global.
Akibatnya, peluang penurunan suku bunga The Fed tahun ini semakin kecil.
Dalam praktiknya, situasi tersebut langsung mendorong penguatan dolar AS terhadap banyak mata uang dunia, termasuk rupiah.
Yang jadi sorotan, pelemahan rupiah kali ini terjadi ketika pasar global masih sensitif terhadap arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat.
Analis pasar uang Lukman Leong menyampaikan pelemahan rupiah juga dipicu penguatan indeks dolar AS serta naiknya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat.
“Iya, terendah sepanjang sejarah,” kata Lukman.
Menurutnya, investor global saat ini sedang menunggu hasil pertemuan Presiden China Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump.
Meski belum ada pengumuman resmi, pasar disebut mulai menunjukkan optimisme terhadap arah hubungan kedua negara tersebut.
“Rupiah diperkirakan dibuka melemah terhadap dolar AS seiring penguatan indeks dolar di tengah optimisme investor terhadap pertemuan Xi dan Trump,” ujarnya.
Pada saat yang sama, imbal hasil obligasi pemerintah AS naik ke level tertinggi dalam setahun setelah data inflasi Amerika Serikat dinilai lebih panas dibanding perkiraan pasar.
Kondisi itu meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dan memperkuat tekanan terhadap mata uang emerging market.
Mata Uang Asia dan Negara Maju Ikut Melemah
Pelemahan rupiah terjadi bersamaan dengan tekanan yang dialami mayoritas mata uang Asia.
Won Korea Selatan tercatat melemah 0,50 persen terhadap dolar AS. Sementara itu, baht Thailand turun 0,28 persen dan ringgit Malaysia melemah 0,39 persen.
Yen Jepang juga mengalami pelemahan sebesar 0,11 persen.
Tak hanya mata uang Asia, tekanan serupa terjadi pada mata uang negara maju.
Poundsterling Inggris turun 0,28 persen, dolar Australia melemah 0,47 persen, euro Eropa turun 0,19 persen, dan dolar Kanada terkoreksi 0,16 persen terhadap dolar AS.
Dalam perkembangan selanjutnya, arah pergerakan rupiah diperkirakan masih akan dipengaruhi dinamika geopolitik global serta keputusan kebijakan moneter Amerika Serikat.
