BRIN, Wahyu PurwantaPenyebab kebakaran TPA Jatiwaringin diungkap BRIN. Api di bawah permukaan membuat kebakaran sulit padam dan membutuhkan alat berat

Penyebab kebakaran TPA Jatiwaringin yang belum juga padam diungkap oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Menurut peneliti BRIN, titik api yang berada di bawah permukaan timbunan sampah menjadi faktor utama karena sulit dijangkau air dan membutuhkan penanganan khusus.

Kebakaran TPA Jatiwaringin masih menjadi perhatian karena api belum berhasil dipadamkan sepenuhnya. Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Wahyu Purwanta, menjelaskan bahwa bara api yang berada di bawah permukaan menjadi penyebab utama kebakaran berlangsung dalam waktu lama.

Menurut Wahyu, titik panas tersembunyi tersebut tetap mendapatkan pasokan oksigen hingga kedalaman sekitar dua meter. Akibatnya, bara api terus bertahan meski penyemprotan air dilakukan dari permukaan.

Ia menegaskan pemadaman dari udara atau penyiraman biasa tidak cukup mengatasi kebakaran di bagian bawah timbunan sampah. Karena itu, proses penanganan perlu dibantu menggunakan alat berat agar titik panas dapat dijangkau secara langsung.

BRIN Jelaskan Faktor yang Memicu Kebakaran TPA Jatiwaringin

Wahyu membandingkan kondisi tersebut dengan kebakaran lahan gambut. Pada situasi seperti itu, api sering tidak terlihat di permukaan, tetapi bara masih aktif di dalam timbunan sehingga asap terus keluar dalam waktu yang lama.

Selain itu, ia mengingatkan setiap tempat pemrosesan akhir (TPA) memiliki potensi mengalami kebakaran, terutama saat musim kemarau. Oleh sebab itu, pengelola perlu meningkatkan pemantauan kondisi timbunan, mengelola gas landfill, mendeteksi titik panas, mengawasi sumber api, serta memperkuat kesiapsiagaan ketika cuaca kering.

Secara ilmiah, Wahyu menjelaskan kebakaran terjadi ketika tiga unsur bertemu, yaitu bahan bakar, oksigen, dan sumber panas. Di area TPA, bahan bakar tersedia dalam jumlah besar berupa plastik, kertas, tekstil, kayu, karet, hingga material organik yang telah mengering. Sementara itu, oksigen dapat masuk melalui permukaan, retakan, maupun rongga di dalam timbunan sampah.

Meski begitu, Wahyu menegaskan sumber penyalaan awal pada suatu kebakaran tidak dapat disimpulkan tanpa proses investigasi. Menurutnya, pemicu bisa berasal dari api terbuka, puntung rokok, pembakaran di sekitar lokasi, benda panas, abu, maupun panas yang muncul dari dalam timbunan sampah.

Lebih lanjut, BRIN menilai tidak ada satu teknologi yang cocok diterapkan untuk seluruh daerah maupun semua karakteristik sampah. Pemilihan teknologi harus menyesuaikan jenis sampah, kapasitas pengelolaan, kesiapan infrastruktur, kemampuan pembiayaan, serta pengoperasian jangka panjang. Untuk sampah organik, pengurangan dapat dilakukan melalui pengomposan, biodigester, anaerobic digestion, maupun teknologi biokonversi, sedangkan material yang masih bernilai diarahkan kembali ke proses daur ulang.