Profil Gus Irfan atau Mochammad Irfan YusufProfil Gus Irfan menjadi perhatian jelang Muktamar NU 2026. Cucu pendiri NU ini memiliki pengalaman organisasi, pendidikan, dan karier.

Profil Gus Irfan menjadi sorotan menjelang Muktamar ke-35 NU setelah namanya disebut sebagai figur yang layak memimpin PBNU. Tokoh asal Jombang itu dinilai memiliki pengalaman organisasi, rekam jejak pendidikan kuat, serta tidak terlibat dalam konflik internal yang selama ini membayangi dinamika Nahdlatul Ulama.

Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, pada 27-31 Agustus 2026, sejumlah nama mulai masuk dalam perbincangan sebagai calon pemimpin baru Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Salah satu nama yang mencuat adalah KH Mochammad Irfan Yusuf atau yang lebih dikenal sebagai Gus Irfan. Namanya muncul setelah mendapat perhatian dari Pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso Peterongan Jombang, KH Zainul Ibad As’ad atau Gus Ulib.

Dalam pandangannya, kepemimpinan NU periode mendatang perlu menghadirkan figur yang mampu merangkul seluruh elemen organisasi. Karena itu, ia berharap tokoh yang tidak terlibat dalam konflik internal memperoleh kesempatan lebih besar untuk memimpin PBNU.

Menurut Gus Ulib, Muktamar 2026 harus menjadi momentum memperkuat persatuan, bukan memperpanjang perbedaan yang selama ini muncul di lingkungan organisasi.

Gus Ulib Dorong Figur Netral Pimpin PBNU

Gus Ulib menilai NU membutuhkan kepemimpinan yang bebas dari beban perselisihan antarkelompok. Dengan demikian, energi organisasi dapat difokuskan untuk pengabdian kepada umat dan penguatan program keumatan.

Ia bahkan meminta para elite yang sebelumnya terlibat konflik internal untuk memberi ruang kepada figur baru. Menurutnya, langkah tersebut penting demi menciptakan suasana yang lebih kondusif menjelang periode kepengurusan berikutnya.

Selain itu, ia memandang Muktamar di Jombang memiliki makna historis yang kuat. Dalam konteks tersebut, forum tertinggi NU itu dapat menjadi sarana rekonsiliasi dan penguatan persaudaraan di kalangan Nahdliyin.

Yang jadi sorotan, Gus Ulib juga menekankan pentingnya peran dzurriyah atau keturunan para pendiri NU dalam menjaga kesinambungan nilai-nilai dasar organisasi.

Latar Belakang Keluarga Gus Irfan

Gus Irfan lahir di Jombang pada 24 April 1962. Ia merupakan cucu dari pendiri Nahdlatul Ulama, Hadratussyekh KH Hasyim As’ari.

Faktor tersebut membuat namanya tidak asing di lingkungan pesantren maupun warga NU. Selain memiliki garis keturunan langsung dari pendiri organisasi, ia juga aktif dalam berbagai aktivitas pendidikan dan kelembagaan pesantren.

Dalam konteks tersebut, keberadaan Gus Irfan dianggap memiliki kedekatan dengan nilai-nilai yang diwariskan para muassis NU sejak awal berdirinya organisasi.

Riwayat Pendidikan Gus Irfan

Dari sisi akademik, Gus Irfan memiliki latar pendidikan yang panjang. Ia meraih gelar sarjana pada 1985 di Universitas Brawijaya.

Selanjutnya, ia menyelesaikan pendidikan magister di kampus yang sama pada 2002. Tak berhenti di situ, Gus Irfan melanjutkan studi doktoral di bidang Manajemen Pendidikan Islam.

Pada Februari 2025, ia resmi menyelesaikan program doktor di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Rekam jejak pendidikan tersebut menjadi salah satu modal penting dalam menjalankan berbagai tugas organisasi maupun pemerintahan.

Pengalaman Organisasi dan Karier Publik

Selain memiliki latar akademik yang kuat, Gus Irfan juga dikenal aktif dalam dunia organisasi. Sejak 1989, ia menjabat sebagai Sekretaris Umum Pondok Pesantren Tebuireng.

Tak hanya itu, ia pernah mengemban amanah sebagai Wakil Ketua Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU). Pengalaman tersebut membuatnya memahami berbagai dinamika yang berkembang di lingkungan organisasi.

Sementara itu, dalam karier politik, Gus Irfan pernah menjadi anggota DPR RI dari Fraksi Gerindra. Pengalaman di parlemen memperluas pemahamannya mengenai kebijakan publik dan tata kelola pemerintahan.

Saat ini, Presiden Prabowo Subianto mempercayainya sebagai Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia. Sebelumnya, ia juga memimpin Badan Penyelenggara Haji atau BP Haji.

Dengan kombinasi pengalaman pendidikan, organisasi, pesantren, dan pemerintahan, nama Gus Irfan kini menjadi salah satu figur yang ikut diperbincangkan menjelang Muktamar ke-35 NU di Jombang.