Keracunan MBG SMAN 1 Berastagi, bahasa kitaKeracunan MBG SMAN 1 Berastagi memicu trauma siswa dan keluarga. BGN fokus menangani korban serta mengevaluasi pengelolaan pangan.

Keracunan MBG SMAN 1 Berastagi meninggalkan trauma bagi siswa dan keluarga. BGN kini memprioritaskan penanganan medis serta pemulihan korban.

Keracunan MBG SMAN 1 Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatra Utara, berdampak pada kondisi psikologis para siswa.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengakui para pelajar mengalami trauma setelah insiden tersebut.

Menurutnya, dampak psikologis juga dirasakan keluarga siswa. Karena itu, BGN berkomitmen memperbaiki tata kelola program MBG.

Keracunan MBG SMAN 1 Berastagi Picu Evaluasi

Saat ini, BGN memusatkan perhatian pada penanganan medis dan pemulihan siswa yang terdampak.

Setelah seluruh korban mendapat penanganan, BGN akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah serta Kementerian Kesehatan.

Koordinasi tersebut akan membahas penanganan setelah proses pengobatan para siswa selesai.

Sementara itu, penelusuran awal BGN mengarah pada persoalan pengolahan dan penyimpanan bahan pangan.

Sudaryono menyebut kelalaian Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi atau SPPG menjadi pemicu kasus tersebut.

Pengelolaan Bahan Ikan Jadi Sorotan

Dalam penelusuran awal, pengelola dapur tidak menyimpan pasokan ikan dalam freezer atau fasilitas pendingin yang semestinya.

Akibatnya, kualitas bahan pangan menurun sebelum makanan diproses dan disajikan kepada penerima manfaat.

BGN kemudian menutup dapur tersebut untuk kebutuhan investigasi. Kepala SPPG juga dicopot dari jabatannya.

Tak hanya itu, BGN mempertimbangkan pemecatan status PPPK kepala SPPG karena menilai pelanggaran tersebut serius.

Di sisi lain, BGN menggandeng kepolisian untuk mengusut kemungkinan adanya unsur pidana dalam insiden tersebut.

Sudaryono menegaskan pihaknya akan terbuka selama proses hukum berjalan.

Selain evaluasi internal, BGN mengingatkan penerima manfaat agar mengikuti prosedur operasional standar atau SOP MBG.

Salah satunya, siswa diminta langsung menyantap makanan di sekolah dan tidak membawa makanan untuk dikonsumsi kemudian.

Yang perlu dicermati, makanan yang terlalu lama berada di luar kondisi penyimpanan sesuai standar dapat mengalami pertumbuhan bakteri.

Menurut Sudaryono, ada makanan yang dibagikan pagi hari tetapi baru dikonsumsi pada malam hari.

Karena itu, BGN meminta prosedur konsumsi makanan MBG tetap mengikuti ketentuan yang berlaku.