gejala Zika, bahasa kitaGejala Zika sering ringan dan menyerupai dengue atau chikungunya. Epidemiolog menjelaskan ciri, durasi, serta risiko infeksi pada ibu hamil.

Gejala Zika kerap ringan dan menyerupai penyakit lain, sehingga infeksi dapat luput dari pemeriksaan tanpa tes khusus.

Gejala Zika menjadi perhatian setelah laporan wisatawan positif virus tersebut muncul usai perjalanan ke Bali. Meski demikian, Kemenkes RI hingga kini belum menemukan kasus Zika di Indonesia.

Epidemiolog Griffith University Australia Dicky Budiman menjelaskan sebagian besar infeksi Zika tidak menimbulkan gejala. Kondisi tersebut membuat infeksi berpotensi tidak terdeteksi.

Menurutnya, gejala yang muncul juga dapat menyerupai sejumlah penyakit. Karena itu, pemeriksaan khusus diperlukan untuk memastikan seseorang terinfeksi virus Zika.

Gejala Zika Sering Menyerupai Dengue

Yang jadi sorotan ialah kemiripan gejala Zika dengan dengue, chikungunya, dan influenza. Kondisi tersebut dapat membuat orang mengira infeksi sebagai penyakit lain.

Jika muncul, gejala Zika biasanya berupa demam ringan. Suhu tubuh umumnya berada di bawah 38,5 derajat Celsius.

Ruam dan Mata Merah Jadi Gejala yang Muncul

Selain demam, penderita dapat mengalami ruam makulopapular pada kulit. Dicky menyebut ruam tersebut menjadi salah satu ciri yang cukup karakteristik.

Sementara itu, gejala lain mencakup mata merah atau konjungtivitis nonpurulen. Nyeri sendi, nyeri otot, sakit kepala, dan kelemahan juga dapat menyertai.

Bahkan, pembengkakan di sekitar sendi dapat muncul selama infeksi. Gejala tersebut biasanya berlangsung sekitar dua sampai tujuh hari.

Di sisi lain, orang tanpa gejala tetap dapat membawa virus. Kondisi ini membuat jumlah infeksi sebenarnya berpotensi lebih besar daripada kasus yang terdeteksi.

Risiko tersebut perlu diperhatikan terutama pada ibu hamil. Dicky menyebut infeksi Zika pada kehamilan dapat berdampak terhadap janin.

Komplikasi neurologis pada janin termasuk salah satu risiko yang disebutkan. Meski demikian, Dicky menegaskan kondisi tersebut tergolong jarang.

Faktanya, laporan wisatawan positif Zika setelah perjalanan ke Bali memicu perhatian kesehatan internasional. CDC AS kemudian menerbitkan Travel Health Notice Level 2 pada 7 Agustus 2026.

Namun, Kemenkes menyatakan belum menemukan kasus Zika di Indonesia. Hingga 10 Agustus 2026, pemerintah juga belum menerima notifikasi IHR dari Prancis maupun Jerman.

Dengan kata lain, peringatan perjalanan tersebut belum disertai temuan kasus Zika di Indonesia. Pemerintah tetap menindaklanjuti informasi melalui koordinasi dengan CDC Indonesia dan CDC AS.