Ledakan alga Israel memunculkan perhatian baru terhadap risiko gangguan pasokan air, sementara ilmuwan belum menemukan penyebab pastinya.
Ledakan alga Israel masih menjadi perhatian setelah fenomena tersebut mengganggu lima fasilitas desalinasi utama. Para peneliti kini memeriksa berbagai faktor yang mungkin memicu pertumbuhan organisme secara cepat.
Fenomena itu pertama kali muncul di sekitar Delta Nil sebelum bergerak ke utara mengikuti arus laut. Kondisi perairan kemudian memengaruhi fasilitas desalinasi di pesisir Israel.
Peneliti di Lembaga Penelitian Oseanografi dan Limnologi Israel, Or Bialik, menggambarkan perubahan air secara ekstrem. Ia menyebut air berubah hijau dan memiliki tingkat kekeruhan sangat tinggi.
Ledakan Alga Israel Dikaji dari Berbagai Faktor
Menurut para ilmuwan, sianobakteri dari genus Synechococcus menjadi organisme penyebab ledakan alga. Namun, spesies pastinya masih dalam penyelidikan.
Dalam konteks tersebut, suhu Laut Mediterania menjadi salah satu faktor yang mendapat perhatian. Paparan matahari, arus laut, dan kondisi badai juga masuk dalam kajian.
Selain itu, badai dapat membuat air menjadi lebih keruh. Perubahan kondisi tersebut berpotensi memengaruhi lingkungan tempat organisme berkembang.
Yang jadi sorotan, ilmuwan berbeda pendapat mengenai kontribusi limbah dari Gaza. Kepala Laboratorium Perubahan Iklim Universitas Ben-Gurion, Avner Gross, mengaitkannya dengan sumber polusi.
Di sisi lain, Tamar Guy-Haim menilai kemungkinan limbah Gaza sebagai pendorong utama relatif rendah. Karena itu, para peneliti belum menetapkan satu faktor sebagai penyebab tunggal.
Risiko Gangguan Desalinasi Menjadi Perhatian
Sementara itu, penutupan lima fasilitas menunjukkan dampak langsung fenomena tersebut terhadap sistem air Israel.
Desalinasi menyumbang sedikitnya 65 persen air minum Israel. Sebagian besar fasilitasnya berada di sepanjang pantai Mediterania.
Akibatnya, gangguan lingkungan di kawasan pesisir dapat memengaruhi fasilitas yang memiliki peran besar dalam pasokan air.
Otoritas air Israel menyatakan sistem air masih stabil. Pemerintah mengalihkan pasokan melalui Danau Galilea, sumur air tanah, dan waduk.
Namun, otoritas juga membatasi sebagian penggunaan air untuk irigasi pertanian dan fasilitas publik.
Lebih jauh, peneliti Edo Bar-Zeev memperingatkan fenomena serupa dapat semakin sering terjadi. Ia mengaitkannya dengan kenaikan suhu Laut Mediterania akibat perubahan iklim.
Patut dicermati, para ilmuwan belum memastikan apakah peristiwa tersebut akan berulang dalam pola yang sama. Mereka masih menelusuri hubungan antara pemanasan laut, arus, polusi, dan limbah.
Secara faktual, hingga tahap ini belum ada satu penjelasan ilmiah yang menjadi penyebab pasti ledakan alga tersebut.
