bahasakita.id – Abu Janda kembali menjadi perhatian publik setelah terlibat perdebatan sengit dengan dua akademisi dalam sebuah forum diskusi televisi nasional. Cuplikan perdebatan tersebut menyebar luas di media sosial dan memicu perbandingan gaya argumentasi antara para narasumber yang terlibat.
Peristiwa itu terjadi dalam program “Rakyat Bersuara” yang disiarkan iNews TV pada Selasa malam, 10 Maret 2026. Dalam forum tersebut, Abu Janda berdiskusi bersama pakar hukum tata negara Feri Amsari serta akademisi hubungan internasional Ikrar Nusa Bhakti.
Tema yang dibahas berkaitan dengan konflik geopolitik internasional, termasuk dinamika hubungan Amerika Serikat, Israel, Iran, dan Palestina. Namun perhatian publik kemudian bergeser pada bagaimana perbedaan pandangan disampaikan oleh masing-masing narasumber.
Perbedaan Cara Menyampaikan Argumen
Dalam sesi diskusi, Abu Janda menyampaikan pandangannya mengenai peran Amerika Serikat dalam proses kemerdekaan Indonesia. Ia menilai kontribusi Amerika kerap dilupakan dalam narasi sejarah yang berkembang di masyarakat.
“Amerika tuh punya peran besar sekali pada kemerdekaan kita. Orang tuh ingetnya cuma 17 Agustus aja,” ujarnya dalam forum tersebut.
Ia juga menyinggung situasi pascaproklamasi ketika Belanda kembali ke Indonesia dengan membonceng pasukan NICA untuk melucuti tentara Jepang.
Di sisi lain, Ikrar Nusa Bhakti mencoba memberikan penjelasan dari sudut pandang sejarah politik internasional. Ia menekankan bahwa keterlibatan Amerika dalam proses diplomasi Indonesia perlu dilihat dalam konteks geopolitik global setelah Perang Dunia II.
Menurutnya, faktor kekhawatiran Amerika terhadap penyebaran komunisme di Asia menjadi salah satu latar yang memengaruhi sikap negara tersebut terhadap Indonesia.
Rujukan Akademik dalam Diskusi
Dalam penjelasannya, Ikrar menyarankan agar diskusi merujuk pada kajian sejarah yang telah banyak digunakan dalam penelitian akademik.
“Coba baca buku Nationalism and Revolution in Indonesia karya George McTurnan Kahin,” ujarnya ketika merujuk literatur yang membahas revolusi Indonesia.
Pendekatan tersebut menunjukkan perbedaan cara penyampaian argumen antara narasumber dalam forum diskusi tersebut.
Polemik Palestina dan Respons Abu Janda
Perdebatan kemudian bergeser pada isu hubungan Indonesia dan Palestina. Dalam bagian ini, Feri Amsari menyinggung hubungan historis antara kedua bangsa.
Ia menyebut Palestina termasuk pihak yang lebih awal memberikan pengakuan terhadap kemerdekaan Indonesia. Feri juga mengingatkan kontribusi tokoh Palestina dalam upaya diplomasi yang dilakukan Agus Salim pada masa revolusi.
“Kalau tidak ada bangsawan dari Palestina yang menyumbang untuk kemerdekaan bangsa ini, melalui Agus Salim belum tentu juga kita merdeka,” ujar Feri.
Ia menilai hubungan historis tersebut sering dijadikan rujukan ketika membahas sikap Indonesia terhadap konflik Israel dan Palestina.
Namun Abu Janda menolak pandangan tersebut dan mempertanyakan narasi mengenai utang sejarah Indonesia terhadap Palestina.
“Utang apaan bangsa kita kemerdekaan Palestina, utang apaan Bang? Jangan ngaco,” ujarnya dalam diskusi tersebut.
Cuplikan perdebatan tersebut kemudian ramai dibagikan di berbagai platform media sosial. Banyak warganet membandingkan cara masing-masing narasumber menyampaikan argumen dalam forum diskusi publik.
