Daerah

Banjir Longsor Kota Batu Tutup Sungai, Warga Waspadai Hujan Susulan

banjir longsor Kota Batu
banjir longsor Kota Batu

Banjir longsor Kota Batu terjadi setelah hujan deras pada Rabu, 28 Oktober 2026. Material longsor sepanjang 30 meter menutup aliran sungai dan menimpa kebun warga di Kecamatan Batu.

Hujan deras yang mengguyur Kota Batu, Jawa Timur, pada Rabu, 28 Oktober 2026, sejak pukul 14.30 WIB memicu banjir luapan dan tanah longsor di sejumlah wilayah. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu mencatat tujuh titik terdampak, terdiri atas empat titik banjir luapan dan tiga titik longsor yang tersebar di Kecamatan Junrejo serta Kecamatan Batu.

Dampak paling serius terjadi di Dusun Gondorejo, Desa Oro-Oro Ombo, Kecamatan Batu. Longsor susulan membuat plengsengan dan tembok milik sebuah hotel ambrol sepanjang sekitar 30 meter dengan ketinggian tujuh meter. Material tanah dan bebatuan kemudian menimpa kebun jeruk milik warga serta menutup aliran sungai di bawahnya.

Kondisi Banjir Longsor Kota Batu

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Batu, Doddy Faturrachman, menjelaskan bahwa bencana dipicu curah hujan tinggi yang disertai penyumbatan saluran drainase dan sungai. Sumbatan itu berasal dari sampah serta akar bambu yang terbawa arus ketika hujan turun dengan intensitas tinggi.

“Banjir luapan ini karena aliran sungai atau drainase dipenuhi sampah. Jadi setelah hujan reda sudah tidak ada airnya, tinggal dibersihkan sisa sampahnya,” ujar Doddy, Kamis, 29 Oktober 2026.

Berdasarkan asesmen Tim Reaksi Cepat BPBD Kota Batu, banjir luapan melanda Jalan Diponegoro di Desa Mojorejo, Dusun Gondorejo di Desa Oro-Oro Ombo, Dusun Junwatu di Desa Junrejo, serta Jalan Raya Oro-Oro Ombo. Air meluber ke badan jalan dengan ketinggian sekitar 15 sentimeter di sebagian lokasi.

Luapan air juga merobohkan sejumlah bangunan warga. Sebuah warung es teler di Dusun Gondorejo mengalami kerusakan berat setelah terkena arus air deras. Perabot warga dilaporkan hanyut, sementara sebagian permukaan jalan rusak akibat genangan dan aliran air bercampur lumpur.

Longsor Menutup Aliran Sungai

Selain banjir, tanah longsor terjadi di Dusun Krajan Lor, Desa Tlekung, Kecamatan Junrejo. Plengsengan teknis sepanjang 35 meter dengan tinggi empat meter ambrol dan menimpa kandang ayam serta taman milik warga.

Di lokasi lain, material longsor dari plengsengan dan tembok yang ambrol menutup aliran sungai. Kondisi itu berpotensi menghambat aliran air ketika hujan susulan datang. Oleh sebab itu, petugas memprioritaskan pembersihan material agar aliran sungai kembali normal.

BPBD Kota Batu menyatakan tidak ada korban jiwa maupun luka-luka dalam rangkaian kejadian tersebut. Meski demikian, kerusakan menimpa rumah, fasilitas umum, jalan, bangunan usaha, dan lahan pertanian warga.

Penanganan Darurat oleh Pemerintah Kota Batu

Wali Kota Batu Nurochman turun langsung meninjau lokasi terdampak pada Kamis, 29 Oktober 2026. Ia didampingi Sekretaris Daerah Kota Batu Alfi Nurhidayat serta sejumlah kepala perangkat daerah. Peninjauan berfokus pada Desa Oro-Oro Ombo, Desa Tlekung, dan Desa Mojorejo.

Nurochman menyebut bencana tersebut merupakan dampak hujan pertama berintensitas tinggi setelah kemarau panjang. Sampah yang tercepar terbawa arus menyumbat saluran drainase, sehingga air tidak tertampung dan meluber ke jalan hingga rumah warga.

Pemerintah Kota Batu menyiapkan penanganan, khususnya untuk plengsengan yang jebol dan berpotensi membahayakan warga. Tim gabungan BPBD, TNI, Polri, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan, perangkat desa, serta relawan membersihkan lumpur dan material longsor di empat titik di Desa Tlekung dan Desa Mojorejo.

BPBD juga mengimbau warga agar tidak membuang sampah ke sungai maupun saluran drainase. Pihaknya menilai kebiasaan tersebut memperbesar risiko luapan air ketika curah hujan meningkat.

Waspada Hujan Susulan

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menetapkan status Waspada hujan sedang hingga lebat untuk Jawa Timur pada Sabtu, 31 Oktober 2026. Kondisi itu berpotensi memicu genangan, luapan air sungai, dan tanah longsor di wilayah yang rentan.

Warga Kota Batu, terutama yang tinggal dekat lereng, sungai, dan saluran drainase, diminta meningkatkan kewaspadaan. Mereka perlu memantau kondisi lingkungan, menghindari aktivitas di sekitar tebing serta aliran sungai saat hujan, dan segera melaporkan tanda bahaya kepada pemerintah desa atau BPBD.

Data BPBD Kota Batu hingga awal Oktober 2026 mencatat 106 kejadian bencana hidrometeorologi, termasuk 49 tanah longsor, 41 cuaca ekstrem, dan 16 banjir. Jumlah tersebut menunjukkan bahwa kesiapsiagaan warga dan pemeliharaan drainase menjadi kebutuhan mendesak menjelang puncak musim hujan.

Pemerintah Kota Batu kini berupaya membersihkan material penyumbat, memperbaiki kerusakan infrastruktur, dan mendata kerugian warga. Langkah tersebut penting dilakukan segera agar risiko banjir dan longsor susulan tidak berkembang menjadi bencana yang lebih besar.