film Para Perasuk

Film Para Perasuk Wregas Bhanuteja Angkat Tradisi Kerasukan

Bahasa Kita – Film Para Perasuk karya Wregas Bhanuteja hadir dengan pendekatan berbeda dalam membaca tradisi kerasukan, dengan menggabungkan unsur drama, psikologis, dan budaya lokal dalam satu narasi yang berlapis.

Film ini menjadi karya panjang ketiga Wregas setelah Penyalin Cahaya (2021) dan Budi Pekerti (2023). Dalam proyek terbarunya, ia kembali mengeksplorasi realitas sosial yang dikaitkan dengan pengalaman batin manusia.

Cerita berpusat pada Bayu, karakter yang diperankan Angga Yunanda. Ia digambarkan sebagai pemuda yang memiliki ambisi menjadi perasuk terbaik di desanya, Latas.

Desa tersebut memiliki tradisi khas berupa pesta kerasukan yang diwariskan lintas generasi. Praktik ini tidak hanya menjadi bagian dari kepercayaan, tetapi juga berfungsi sebagai hiburan kolektif masyarakat.

Tradisi Kerasukan sebagai Ruang Sosial

Yang jadi sorotan, Wregas tidak menempatkan kerasukan sebagai elemen horor semata. Ia justru mengangkatnya sebagai fenomena sosial yang hidup di tengah masyarakat.

Dalam konteks ini, kerasukan dipahami sebagai pengalaman komunal. Masyarakat menggunakan ritual tersebut untuk membangun keterhubungan satu sama lain.

Film ini saya buat untuk membalikkan perspektif, di mana biasanya kerasukan dipakai untuk menakut-nakuti,” ujarnya.

Pendekatan ini menghadirkan sudut pandang yang lebih humanis. Kerasukan tidak lagi diposisikan sebagai sesuatu yang asing, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari.

Di sisi lain, tradisi tersebut juga menjadi latar konflik dalam cerita. Mata air keramat di Desa Latas yang menjadi sumber ritual terancam hilang.

Ambisi Karakter dan Konflik Desa

Dalam alur cerita, Bayu berupaya menyelamatkan mata air tersebut dengan menggelar pesta kerasukan berskala besar. Tujuannya untuk mengumpulkan dana.

Namun, perjalanan tersebut tidak berjalan sederhana. Bayu mulai menghadapi batasan dirinya sendiri.

Dalam proses itu, ia memahami bahwa ambisi tidak cukup untuk menjadi perasuk sejati. Pengalaman yang dilalui membuka pemahaman baru tentang tanggung jawab dan pengorbanan.

bahasa kita
Film Para Perasuk’ Wakili Indonesia di Sundance Festival 2026

Lapisan Narasi dan Eksplorasi Psikologis

Yang kerap luput diperhatikan, film ini tidak berjalan secara linear. Batas antara realitas dan imajinasi dibuat cair.

Hal ini membuka ruang bagi isu-isu seperti identitas, kesadaran, hingga pengalaman transendental. Elemen tersebut menjadi benang merah dalam keseluruhan cerita.

Pesta sambetan dan kerasukan merefleksikan pengalaman komunal yang kita temui sehari-hari di Indonesia,” kata Wregas.

Selain konflik internal, film ini juga menampilkan tekanan dari luar desa. Ancaman tersebut memperlihatkan dinamika antara komunitas lokal dan kekuatan eksternal.

Tak hanya itu, film ini diperkuat deretan aktor seperti Maudy Ayunda, Bryan Domani, Chicco Kurniawan, Ganindra Bimo, Indra Birowo, dan Anggun.

Film Para Perasuk dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 23 April 2026. Sebelumnya, film ini telah melakukan pemutaran perdana di Sundance Film Festival 2026 dan masuk kompetisi di Miami Film Festival serta Fantaspoa di Brasil.