Gelombang panas Eropa kembali menjadi perhatian setelah Prancis melaporkan 5.764 kematian berlebih dalam periode 17 Juni hingga 2 Juli 2026. Otoritas kesehatan masih mengkaji keterkaitan langsung antara lonjakan kematian dan cuaca ekstrem tersebut.
Gelombang panas Eropa memicu lonjakan angka kematian berlebih di Prancis. Badan Kesehatan Nasional Prancis mencatat sebanyak 5.764 kematian berlebih selama periode 17 Juni hingga 2 Juli 2026.
Berdasarkan laporan yang dikutip dari The Guardian pada Kamis, 23 Juli 2026, angka tersebut meningkat 36 persen dibandingkan kondisi normal pada periode yang sama.
Prancis Catat Ribuan Kematian Berlebih Saat Gelombang Panas
Lebih dari separuh kematian terjadi hanya dalam tiga hari, yakni pada 25 hingga 27 Juni. Sementara itu, sekitar dua pertiga korban merupakan warga berusia 75 tahun ke atas.
Meski demikian, otoritas kesehatan menegaskan seluruh korban meninggal tercatat akibat berbagai penyebab. Hingga kini belum ada kepastian bahwa seluruh kematian tersebut berkaitan langsung dengan gelombang panas.
Jika dibandingkan dengan musim panas tahun sebelumnya, jumlah kematian berlebih kali ini sedikit lebih tinggi. Pada musim panas 2025, Prancis mencatat 5.722 kematian berlebih.
Gelombang Panas Masih Menjadi Perhatian
Secara faktual, lonjakan kematian terjadi ketika sebagian besar wilayah Eropa menghadapi suhu udara yang jauh di atas rata-rata. Kondisi tersebut meningkatkan perhatian terhadap dampak cuaca ekstrem terhadap kelompok rentan, khususnya warga lanjut usia.
Di sisi lain, otoritas kesehatan masih melakukan pemantauan terhadap perkembangan situasi. Pemerintah juga belum menyimpulkan hubungan sebab akibat antara gelombang panas dan seluruh angka kematian yang tercatat.
Mayoritas Korban Berusia Lanjut
Yang menjadi sorotan, sebagian besar korban berasal dari kelompok usia 75 tahun ke atas. Data tersebut menunjukkan kelompok lanjut usia tetap menjadi populasi yang paling rentan ketika suhu udara meningkat secara ekstrem.
Sementara proses pemantauan terus berlangsung, otoritas kesehatan tetap mengacu pada data resmi sebelum menetapkan penyebab pasti dari lonjakan angka kematian tersebut.
