Ginka Febriyanti dan Mufli AnandaProfil Ginka Febriyanti dan Mufli Ananda menjadi sorotan usai ditunjuk sebagai komisaris anak usaha BUMN. Simak pendidikan, latar belakang.

Profil Ginka Febriyanti dan Mufli Ananda menjadi perhatian setelah keduanya dipercaya menduduki kursi komisaris di anak usaha BUMN. Penunjukan tersebut memicu perbincangan mengenai latar belakang pendidikan, pengalaman, hingga rekam jejak profesional masing-masing.

Profil Ginka Febriyanti dan Mufli Ananda ramai dibahas di media sosial setelah nama keduanya masuk dalam jajaran komisaris perusahaan yang berafiliasi dengan badan usaha milik negara (BUMN). Perhatian publik muncul karena usia, latar belakang, serta pengalaman keduanya dinilai menjadi faktor penting dalam mengemban jabatan strategis tersebut.

Ginka Febriyanti Ginting dipercaya menjadi Komisaris PT Pertamina Retail (Pertare), anak usaha PT Pertamina (Persero). Sementara itu, Mufli Ananda ditunjuk sebagai Komisaris PT Krakatau Posco, perusahaan patungan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk dengan POSCO.

Profil Ginka Febriyanti Ginting

Ginka Febriyanti Ginting resmi menjabat Komisaris PT Pertamina Retail pada Kamis, 25 Juni 2026.

Berdasarkan informasi pada laman resmi Pertamina Retail, Ginka merupakan warga Jakarta. Namun, sejumlah informasi yang beredar menyebut ia lahir di Kabanjahe, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, pada 1 Februari 1998.

Dengan demikian, usianya saat ini 28 tahun ketika menerima penugasan sebagai komisaris anak usaha Pertamina.

Di bidang pendidikan, Ginka menyelesaikan Program Sarjana Akuntansi di Universitas Esa Unggul. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan Magister Manajemen di perguruan tinggi yang sama.

Selain latar belakang akademik, Ginka juga dikenal sebagai Ketua Nasional Barisan Intelektual Strategi Objektif Nasional (BISON) Indonesia. Organisasi tersebut dikaitkan dengan relawan pendukung Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka pada Pemilihan Presiden 2024.

Riwayat Pendidikan Mufli Ananda

Di sisi lain, Mufli Ananda lebih dahulu dikenal masyarakat sebagai asisten pribadi Raffi Ahmad.

Selama bertahun-tahun, ia mendampingi Raffi Ahmad dalam berbagai aktivitas, mulai dari pekerjaan, kegiatan bisnis, hingga agenda resmi.

Berdasarkan data Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDIKTI), Mufli yang memiliki nama lengkap Mufli Budi Ananda mengawali pendidikan tinggi di Politeknik Bunda Kandung pada 2007.

Ia berhasil menyelesaikan Program Diploma III (D3) Teknik Listrik di perguruan tinggi tersebut.

Selanjutnya, Mufli melanjutkan studi Program Sarjana Teknik Industri di Institut Sains dan Teknologi Nasional (ISTN) pada 2012. Namun, ia mengundurkan diri pada 2017 sebelum menyelesaikan pendidikan.

Pada 2014, Mufli kembali tercatat sebagai mahasiswa ISTN. Meski begitu, studi tersebut juga tidak selesai karena ia kembali mengundurkan diri pada 2018.

Secara faktual, berdasarkan data PDDIKTI, jenjang pendidikan terakhir yang berhasil diselesaikan Mufli adalah Diploma III Teknik Listrik.

Penunjukan Komisaris Jadi Perbincangan

Yang menjadi sorotan, penunjukan Ginka Febriyanti dan Mufli Ananda memicu berbagai tanggapan di media sosial.

Publik mempertanyakan kapabilitas serta rekam jejak manajerial keduanya dalam mengisi posisi komisaris di perusahaan yang memiliki keterkaitan dengan BUMN.

Perbincangan tersebut berkembang setelah latar belakang organisasi, pendidikan, dan pengalaman profesional keduanya menjadi perhatian warganet.

Dony Oskaria Enggan Menanggapi Kontroversi

Dony Oskaria
Kepala Badan Pengaturan BUMN sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria

Sementara itu, Kepala Badan Pengaturan BUMN sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, tidak memberikan komentar terkait polemik penunjukan tersebut.

Ia memilih menyoroti agenda pembenahan BUMN yang sedang dijalankan melalui Danantara.

Menurut Dony, salah satu langkah yang tengah dilakukan ialah mengurangi jumlah entitas BUMN dari lebih dari 1.000 perusahaan menjadi sekitar 250 perusahaan.

Dalam praktiknya, kebijakan tersebut diperkirakan mampu menghasilkan efisiensi hingga Rp50 triliun.

Jadi kurang lebih Rp50 triliun yang akan kita lakukan,” ujar Dony.

Selain itu, Dony mengajak seluruh pihak tetap optimistis terhadap proses perbaikan tata kelola BUMN yang sedang berlangsung.

Kita melihat dengan semangat optimisme bahwa ini pasti kita lakukan dengan sesuatu yang baik,” katanya.