Google uji cloud dari 2.000 HP Pixel bekasGoogle uji cloud dari 2.000 HP Pixel bekas bersama UC San Diego dengan mengubah motherboard menjadi klaster Linux untuk layanan cloud

Google uji cloud dari 2.000 HP Pixel bekas dengan mengubah motherboard menjadi klaster komputasi berbasis Linux. Proyek bersama University of California San Diego ini bertujuan menghadirkan layanan cloud berbiaya rendah sekaligus mengurangi limbah elektronik dan emisi karbon.

Google uji cloud dari 2.000 HP Pixel bekas sebagai bagian dari proyek riset bersama University of California San Diego. Alih-alih membuang perangkat yang sudah tidak digunakan, kedua pihak memanfaatkan motherboard ponsel menjadi sistem komputasi awan (cloud) yang lebih ramah lingkungan.

Proyek tersebut mengusung konsep komputasi klaster ponsel. Dengan pendekatan ini, motherboard smartphone bekas diubah menjadi komputer mini yang masih memiliki kemampuan pemrosesan untuk menjalankan berbagai tugas komputasi. Menurut rencana, proyek akan mulai diluncurkan pada musim gugur tahun ini atau sekitar September hingga November.

Motherboard HP Bekas Diubah Menjadi Klaster Cloud

Dalam praktiknya, setiap perangkat dibongkar hingga hanya menyisakan motherboard. Sementara itu, komponen seperti layar, baterai, kamera, dan bodi dilepas karena tidak diperlukan dalam sistem komputasi. Bahkan, baterai sengaja tidak digunakan untuk mengurangi potensi risiko keamanan.

Selanjutnya, para peneliti memasang sistem operasi Linux pada motherboard tersebut. Meskipun Android juga berbasis Linux, sistem operasi itu dirancang untuk perangkat seluler. Sebaliknya, pusat data memerlukan platform yang lebih fleksibel agar mampu menangani beban kerja komputasi awan.

Setelah proses instalasi selesai, motherboard dikelompokkan ke dalam klaster berisi 25 hingga 50 papan. Setiap papan berfungsi sebagai mesin Linux kecil. Secara kolektif, kumpulan motherboard tersebut mampu menjalankan pekerjaan yang umumnya ditangani server cloud konvensional.

Selain itu, Google menggunakan aplikasi berbasis kontainer yang dikelola Kubernetes untuk mengatur koordinasi pekerjaan pada seluruh perangkat. Pendekatan ini memungkinkan banyak motherboard bekerja secara bersamaan sebagai satu sistem komputasi.

Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) membuat kebutuhan daya komputasi terus meningkat. Akibatnya, pusat data membutuhkan lebih banyak chip, listrik, dan sistem pendingin. Di sisi lain, miliaran smartphone berhenti digunakan setiap tahun sehingga menghasilkan limbah elektronik dalam jumlah besar.

Karena itu, proyek ini berupaya menekan karbon tertanam, yakni emisi yang muncul selama proses penambangan bahan baku, manufaktur, hingga distribusi perangkat. Dengan memanfaatkan kembali motherboard HP bekas, kebutuhan memproduksi server baru dapat berkurang sehingga dampak lingkungan juga ikut ditekan.

Meski motherboard ponsel tidak memiliki kapasitas sebesar server pusat data, Google menilai tidak semua beban kerja memerlukan perangkat berkinerja tinggi. Beberapa tugas komputasi tetap dapat berjalan secara efisien menggunakan sumber daya yang lebih sederhana tanpa mengorbankan fungsi utamanya.