Harga obat naik mulai diantisipasi Pemerintah Kabupaten Tangerang dengan menyesuaikan distribusi obat di puskesmas serta menyiapkan langkah pengamanan stok di fasilitas kesehatan.
Harga obat naik akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai menjadi perhatian fasilitas kesehatan di Kabupaten Tangerang. Kondisi tersebut mendorong Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang menyiapkan sejumlah langkah agar ketersediaan obat tetap terjaga.
Salah satu kebijakan yang akan diterapkan yakni mengurangi jumlah obat yang diberikan kepada pasien dalam satu kali kunjungan. Langkah ini ditempuh untuk menjaga stok obat tetap tersedia di tengah potensi kenaikan harga.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, Hendra Tarmizi, mengatakan pihaknya juga mengusulkan tambahan anggaran. Namun, prioritas utama saat ini adalah memastikan kebutuhan obat masyarakat tetap terpenuhi.
“Harga obat naik membuat kami harus melakukan penyesuaian distribusi. Yang biasanya diberikan untuk 10 hari, nanti menjadi lima hari dulu,” ujarnya, Minggu 14 Juni 2026.
Dinkes Tangerang Ubah Pola Distribusi Obat
Menurut Hendra, pengurangan jumlah obat bukan berarti mengurangi kualitas layanan kesehatan. Pasien tetap mendapatkan obat sesuai kebutuhan medisnya.
Namun, pasien akan diminta melakukan kontrol ulang lebih cepat dibanding sebelumnya. Dengan cara tersebut, ketersediaan obat dapat dijaga lebih merata di seluruh fasilitas kesehatan.
“Sama saja, hanya pengulangan kontrolnya lebih cepat,” katanya.
Selain itu, kebijakan tersebut bersifat sementara. Dinas Kesehatan akan terus memantau perkembangan harga obat di pasaran.
Jika kondisi kembali stabil atau anggaran telah disesuaikan, pola distribusi obat akan kembali seperti sebelumnya. Karena itu, masyarakat diminta memahami langkah yang diambil pemerintah daerah tersebut.
“Harga obat naik membuat kami harus menyesuaikan distribusi. Kalau kondisi sudah normal, tentu akan kembali seperti semula,” ucap Hendra.

RSUD Tigaraksa Siapkan Stok Cadangan
Sementara itu, RSUD Tigaraksa memilih memperkuat persediaan obat untuk mengantisipasi dampak kenaikan harga. Direktur RSUD Tigaraksa, Muhammad Faridzi Fikri, mengaku telah menerima informasi dari distributor mengenai potensi kenaikan harga dalam waktu dekat.
Meski belum menerima rincian resmi, ia memperkirakan kenaikan harga berada pada kisaran 15 hingga 20 persen. Perkiraan tersebut mengikuti kondisi nilai tukar rupiah yang masih tertekan terhadap dolar Amerika Serikat.
“Kalau melihat nilai dolar saat ini, kemungkinan kenaikannya sekitar 15 sampai 20 persen. Tapi kami belum menerima harga pastinya,” ujarnya.
Menurut Fikri, kenaikan harga berpotensi terjadi karena industri farmasi nasional masih bergantung pada bahan baku impor. Akibatnya, obat-obatan tertentu lebih rentan terdampak dibanding produk berbahan lokal.
Obat Penyakit Kronis Berpotensi Terdampak
Fikri menjelaskan kelompok obat yang kemungkinan mengalami kenaikan harga antara lain antibiotik dan obat untuk penyakit tidak menular. Selain itu, obat kanker juga termasuk yang berpotensi mengalami tekanan harga lebih tinggi.
Di sisi lain, obat umum seperti vitamin, obat sakit kepala, dan sejumlah obat dasar dinilai relatif lebih aman. Sebab, sebagian besar produk tersebut sudah diproduksi di dalam negeri.
“Obat-obatan penyakit kronis dan kanker biasanya masih banyak yang impor. Kalau vitamin dan obat dasar lainnya mudah-mudahan masih tersedia dari produksi lokal,” katanya.
Yang patut dicatat, RSUD Tigaraksa memastikan pelayanan kesehatan tetap berjalan normal. Rumah sakit telah menyiapkan buffer stock atau stok cadangan hingga enam bulan ke depan.
Tak hanya itu, rumah sakit juga akan melakukan efisiensi pada sejumlah anggaran non-prioritas jika kenaikan harga benar-benar terjadi. Langkah tersebut ditempuh agar pelayanan kepada masyarakat tidak terganggu.
Fikri juga menegaskan peserta BPJS Kesehatan tidak akan terkena dampak langsung. Sebab, biaya pengobatan tetap ditanggung melalui skema pembiayaan BPJS yang berlaku saat ini.
