Bahasa Kita – Kampung Literasi Pekijing di Kota Serang, Banten, mendapat apresiasi dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah karena dinilai berhasil membangun budaya baca berbasis komunitas dan keluarga. Program tersebut dianggap mampu menghadirkan ruang literasi yang dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari.
Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen, Hafidz Muksin, mengatakan penguatan literasi masyarakat tidak bisa hanya bergantung pada pemerintah. Menurutnya, keterlibatan warga, komunitas, dan keluarga menjadi faktor penting dalam membangun kebiasaan membaca yang berkelanjutan.
“Kami melihat Kampung Literasi Pekijing menunjukkan bagaimana masyarakat dapat membangun ekosistem literasi yang hidup dan menyenangkan,” ujar Hafidz dalam pernyataan tertulis di Jakarta, Rabu.
Yang menarik, penguatan literasi di Kampung Pekijing dilakukan melalui pendekatan sederhana. Buku ditempatkan di rumah-rumah warga dalam kotak baca kecil yang dapat diakses bebas oleh siapa saja tanpa aturan yang rumit.
Dalam praktiknya, keberadaan sudut baca di halaman rumah membuat buku lebih mudah dijangkau masyarakat. Pendekatan itu dinilai berhasil mengurangi jarak antara masyarakat dengan bahan bacaan.
Kampung Literasi Pekijing Gunakan Rumah Buku di Lingkungan Warga

Hafidz menjelaskan rumah-rumah buku yang dibangun warga menjadi salah satu kekuatan utama Kampung Literasi Pekijing. Sudut baca sederhana itu tersebar di lingkungan permukiman dan berada dekat dengan aktivitas harian masyarakat.
Menurutnya, konsep tersebut memperlihatkan bahwa penguatan budaya baca tidak selalu harus dilakukan melalui fasilitas besar atau bangunan formal.
“Kehadiran komunitas literasi berupa taman bacaan masyarakat dan perpustakaan desa di Pekijing dapat menjadi contoh sekaligus penggerak budaya baca di lingkungan sekitar,” katanya.
Di sisi lain, Kampung Literasi Pekijing juga mengembangkan berbagai aktivitas sosial berbasis literasi yang melibatkan banyak kelompok usia. Anak-anak mengikuti kegiatan mendongeng, membaca bersama, permainan tradisional, hingga latihan seni dan musik.
Sementara itu, kelompok lanjut usia ikut dilibatkan dalam kegiatan kreatif seperti melukis, mewarnai, dan membuat kerajinan tangan. Dalam konteks tersebut, literasi tidak hanya dipahami sebagai aktivitas membaca buku, tetapi juga ruang interaksi sosial masyarakat.
Kampung Literasi Pekijing Dorong Masyarakat Dekat dengan Buku

Pembina Kampung Literasi Pekijing, Edi Suryadi, mengatakan penyediaan buku di rumah-rumah warga pada awalnya sempat diragukan efektivitasnya. Namun pendekatan terbuka justru membuat masyarakat lebih nyaman berinteraksi dengan buku.
Menurutnya, masyarakat mulai tertarik membaca ketika buku ditempatkan di lokasi yang mudah dijangkau dan memiliki tema yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
“Ketika buku-buku ditempatkan di depan rumah dan mudah diakses serta judulnya menarik maka masyarakat mulai berani memegang dan membaca buku,” ujarnya.
Yang kerap luput diperhatikan, pendekatan sederhana itu justru membuat budaya baca tumbuh secara alami tanpa tekanan. Warga mulai terbiasa melihat dan memanfaatkan bahan bacaan di lingkungan mereka sendiri.
Warga Pekijing Bangun Rumah Buku Secara Mandiri
Berangkat dari pengalaman tersebut, masyarakat kemudian mengembangkan penyediaan bahan bacaan secara mandiri. Warga membangun rumah-rumah buku di pinggir jalan kampung agar dapat dimanfaatkan oleh penduduk sekitar maupun pengunjung.
Menurut Edi, langkah itu menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap ruang baca sebenarnya cukup tinggi ketika masyarakat diberikan akses yang mudah dan terbuka.
Pada sisi yang sama, Kampung Literasi Pekijing dinilai menjadi contoh bagaimana penguatan budaya baca dapat tumbuh dari lingkungan kecil dengan melibatkan partisipasi aktif warga.
