Krisis Energi India

Krisis Energi India: Warga Diminta Gunakan Listrik Hanya Siang Hari

Bahasa Kita – Krisis energi India mendorong pemerintah meminta warga memindahkan penggunaan listrik ke siang hari guna mengurangi ketergantungan impor energi yang terganggu konflik global.

Kebijakan ini disampaikan Menteri Energi Terbarukan India, Pralhad Joshi, menyusul dampak perang yang memengaruhi distribusi energi, terutama gas elpiji (LPG). Pemerintah menilai perubahan pola konsumsi menjadi langkah cepat untuk menjaga stabilitas pasokan.

Dalam situasi saat ini, stok bensin dan solar masih terjaga. Namun tekanan mulai terlihat pada distribusi LPG yang bergantung pada jalur laut internasional.

Mengapa Krisis Energi India Dipicu Gangguan Global?

Gangguan utama berasal dari penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur distribusi seperempat minyak dunia. Dampaknya langsung terasa pada lonjakan harga energi global.

Harga minyak mentah meningkat lebih dari 55 persen sejak konflik dimulai pada Februari 2026. Bahkan sempat mendekati 120 dolar AS per barel.

Dalam konteks ini, India yang mengimpor sekitar 89 persen kebutuhan minyaknya menjadi sangat rentan.

Sementara itu, distribusi LPG terganggu karena sekitar 60 persen pasokannya melewati jalur tersebut.

Akibatnya, antrean panjang mulai terjadi di berbagai titik distribusi gas.

Strategi India: Alihkan Konsumsi Energi ke Siang Hari

Pemerintah mendorong masyarakat memanfaatkan listrik pada siang hari, terutama dari sumber energi surya.

Jika penggunaan energi dipindahkan sebelum jam 5 sore, itu akan membantu mengurangi impor,” kata Pralhad Joshi.

Pralhad Joshi
Menteri Energi Terbarukan India, Pralhad Joshi

Dalam praktiknya, warga diajak menggunakan listrik untuk memasak, mengisi daya kendaraan listrik, dan menjalankan perangkat elektronik pada siang hari.

Langkah ini bertujuan mengoptimalkan energi murah dari tenaga surya sekaligus menekan penggunaan energi berbasis fosil di malam hari.

Pemanfaatan Energi Surya dalam Kehidupan Sehari-hari

Pemerintah juga mendorong pemasangan panel surya di atap rumah.

Selain mengurangi beban listrik nasional, langkah ini dinilai membantu menjaga lingkungan.

Pendekatan ini menjadi bagian dari strategi jangka pendek untuk mengatasi tekanan pasokan energi.

Peran Energi Terbarukan dalam Krisis Energi India

India mencatat penambahan kapasitas energi terbarukan sebesar 55 gigawatt dalam satu tahun terakhir.

Saat ini, lebih dari 50 persen kapasitas listrik nasional berasal dari energi bersih seperti surya dan angin.

Namun pada praktiknya, kapasitas terpasang belum sepenuhnya mencerminkan produksi listrik aktual.

Pemerintah menilai perlu ada percepatan pembangunan infrastruktur energi agar sistem lebih stabil.

Tantangan dan Kebutuhan Diversifikasi Energi

Di sisi lain, para ahli menilai energi terbarukan belum cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan nasional.

Sagar Adani menekankan pentingnya diversifikasi sumber energi.

Ini bukan soal seberapa cepat tumbuh, tapi seberapa kuat bertahan saat krisis,” ujarnya.

Menurutnya, India harus memanfaatkan seluruh sumber energi yang tersedia, termasuk air, uap, dan nuklir.

Keterbatasan lahan dan ketergantungan pada kondisi cuaca menjadi tantangan dalam pengembangan energi bersih.

Dalam konteks tersebut, pemerintah mulai menerapkan sistem lelang energi yang mensyaratkan pasokan listrik stabil selama 24 jam.

Langkah ini menunjukkan fokus tidak hanya pada jumlah energi, tetapi juga keandalan sistem secara keseluruhan.