Operasi water bombing di TPA Jatiwaringin resmi dihentikan setelah pemantauan drone thermal memastikan seluruh titik api telah padam. Tahap penanganan kini berfokus pada pembasahan dan pendinginan tumpukan sampah agar kebakaran tidak kembali terjadi.
Operasi water bombing di TPA Jatiwaringin memasuki babak baru setelah Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memastikan seluruh titik api telah padam. Keputusan tersebut diambil berdasarkan hasil pemantauan menggunakan drone thermal yang tidak lagi mendeteksi hotspot di lokasi kebakaran.
Dengan berakhirnya operasi udara, proses penanganan kini beralih ke tahap pembasahan dan pendinginan. Langkah ini dilakukan untuk menjaga kondisi tumpukan sampah tetap lembap sehingga tidak memunculkan bara api baru.
Fokus Penanganan Beralih ke Pencegahan Kebakaran Ulang
Perwakilan BNPB, Riswandi, menjelaskan operasi water bombing tidak lagi diperlukan karena seluruh titik panas telah berhasil dipadamkan. Selanjutnya, petugas gabungan memusatkan perhatian pada proses pendinginan di area bekas kebakaran.
Di sisi lain, Direktur Pendayagunaan Sumber Daya dan Pengamanan Hutan Kementerian Kehutanan Suharyono menyebut keberhasilan penanganan kebakaran merupakan hasil koordinasi lintas instansi. Menurutnya, kolaborasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, BNPB, Manggala Agni, serta unsur lainnya menjadi faktor penting dalam pengendalian kebakaran.
Suharyono juga memastikan personel Manggala Agni yang bertugas selama delapan hari berada dalam kondisi sehat. Berdasarkan hasil pemantauan terakhir, kawasan TPA Jatiwaringin sudah tidak lagi menunjukkan adanya hotspot.
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Tangerang tetap mempertahankan status penanganan hingga masa tanggap darurat berakhir pada 14 Juli 2026. Selama periode tersebut, petugas terus melakukan penyiraman dan pembasahan sebagai langkah antisipasi.
Bupati Tangerang Moch. Maesyal Rasyid sebelumnya menyatakan evaluasi akan dilakukan setelah masa tanggap darurat selesai. Hasil evaluasi tersebut akan menentukan apakah status tanggap darurat diperpanjang atau diakhiri.
Menurut Suharyono, keberhasilan penanganan kebakaran TPA Jatiwaringin diharapkan menjadi contoh kolaborasi dalam menghadapi persoalan persampahan dan kebencanaan. Setelah operasi udara dihentikan, seluruh perhatian kini diarahkan pada upaya menjaga lokasi tetap aman dari potensi kebakaran susulan.
