Bahasa Kita – Dua siswa Indonesia berhasil mendapat pengakuan dari NASA setelah menemukan celah keamanan dalam sistem milik badan antariksa Amerika Serikat tersebut. Prestasi ini menjadi sorotan karena keduanya masih berstatus pelajar dan mengikuti program resmi pengujian keamanan.
Penghargaan diberikan melalui Vulnerability Disclosure Program (VDP), sebuah inisiatif yang memungkinkan publik melaporkan kerentanan sistem. Rehan, siswa SMAN 8 Pinrang, menjadi salah satu yang berhasil mencatatkan namanya dalam program tersebut pada awal 2026.
“Alhamdulillah saya bisa tahap mengambil username dari website NASA dan atas dedikasi ini, saya mendapatkan apresiasi resmi dan nama saya tercatat dalam Hall of Fame NASA,” ujar Rehan.
Bagaimana Siswa Indonesia Bisa Masuk Hall of Fame NASA?

Rehan mengaku awalnya ragu bisa menemukan celah dalam sistem NASA. Namun, ia meyakini bahwa setiap sistem tetap memiliki potensi kerentanan.
Dalam praktiknya, ia berhasil mengidentifikasi celah yang memungkinkan pengambilan data username dari situs tersebut. Temuan ini kemudian dilaporkan melalui mekanisme resmi VDP hingga akhirnya mendapatkan pengakuan.
Yang jadi sorotan, pencapaian ini tidak datang secara instan. Rehan telah mempelajari keamanan siber sejak duduk di bangku SMP. Ia belajar secara autodidak melalui berbagai sumber daring.
Awalnya, proses belajar dilakukan hanya menggunakan ponsel. Seiring waktu, dukungan orang tua membuatnya memiliki perangkat yang lebih memadai untuk mengembangkan kemampuan.
Jejak Prestasi dan Penghargaan di Bidang Keamanan Siber
Tak hanya dari NASA, Rehan juga menerima berbagai penghargaan lain yang masih berkaitan dengan keamanan siber. Ia menyebut pernah mendapatkan apresiasi dari Kementerian Komunikasi dan Digital.
Selain itu, beberapa institusi luar negeri juga memberikan pengakuan atas kemampuannya.
“Selain dari NASA pernah juga ada penghargaan dari Komdigi dan kampus bergengsi luar negeri seperti TU Dresden di Jerman, University of Oslo, dan San Diego State University,” tuturnya.
Dalam konteks tersebut, konsistensi belajar menjadi faktor utama yang membentuk kemampuannya. Ia menyatakan akan terus mengasah keterampilan di bidang ini ke depannya.
Peran Komunitas dalam Temuan Celah Sistem NASA

Di sisi lain, pencapaian serupa juga diraih oleh Firoos Ghathfaan Ramadhan, siswa kelas 8 SMP IT Alamy Subang. Ia mendapatkan apresiasi dari NASA melalui pendekatan berbeda.
Firoos menggunakan teknik Open Source Intelligence (OSINT), yaitu metode pengumpulan informasi dari sumber terbuka. Proses ini dilakukan bersama komunitas belajar yang ia ikuti.
“Aku tuh bareng temen-temen dari komunitas spectra.id itu tuh bareng-bareng banyakan. Aku teh belajar bareng, nge-Zoom bareng,” kata Firoos.
Dalam praktiknya, tidak semua laporan yang diajukan diterima. Ia menyebut ada juga anggota komunitas yang tidak mendapatkan pengakuan dari NASA.
Yang patut dicatat, partisipasi dalam program ini juga menjadi bagian dari target pribadinya. Firoos mengaku tengah mengincar ASEAN Scholarship untuk melanjutkan pendidikan ke Singapura.
