Bahasa Kita – Iran tolak gencatan senjata dan memilih jalur berbeda dengan mengajukan syarat strategis untuk mengakhiri perang secara permanen. Sikap ini disampaikan melalui tanggapan resmi kepada mediator regional, menandai posisi tegas Teheran di tengah meningkatnya tekanan militer Amerika Serikat.
Iran, melalui kantor berita IRNA, menegaskan tidak akan menerima skema penghentian sementara konflik. Sebaliknya, mereka menuntut penyelesaian menyeluruh yang mencakup berbagai aspek yang dianggap krusial bagi keamanan nasional dan stabilitas kawasan.
Apa saja syarat Iran untuk mengakhiri perang?
Dalam respons yang dikirim melalui Pakistan sebagai mediator, Iran menyusun sejumlah tuntutan utama. Yang paling menonjol adalah permintaan rekonstruksi wilayah yang terdampak perang serta pencabutan sanksi ekonomi yang selama ini diberlakukan.
Tak hanya itu, Iran juga memasukkan syarat yang lebih luas. Mereka meminta diakhirinya seluruh konflik di kawasan serta pembentukan protokol yang menjamin keamanan pelayaran di Selat Hormuz. Jalur ini dikenal sebagai salah satu rute energi paling vital di dunia.
Dalam konteks tersebut, sikap Iran menunjukkan bahwa penghentian perang tidak bisa dipisahkan dari agenda geopolitik yang lebih besar. Artinya, gencatan senjata sementara dinilai tidak cukup menjawab kepentingan jangka panjang mereka.
Penolakan terhadap skema gencatan sementara
Sementara itu, proposal gencatan senjata selama 45 hari yang diajukan oleh mediator dari Mesir, Pakistan, dan Turki masih berada pada tahap pembahasan. Usulan ini juga mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai bagian dari upaya meredakan ketegangan.
Namun pada kenyataannya, Iran belum menunjukkan tanda-tanda menerima skema tersebut. Bahkan, laporan menyebutkan belum ada tanggapan resmi dari kedua pihak terkait proposal tersebut.
Seorang pejabat Gedung Putih yang dikutip Axios menyebut rencana ini hanyalah salah satu dari beberapa opsi yang dipertimbangkan. Presiden Amerika Serikat Donald Trump sendiri belum memberikan persetujuan final atas usulan tersebut.
Bagaimana sikap Iran di tengah tekanan militer?
Di lapangan, operasi militer Amerika Serikat bersama Israel terus berlangsung dengan intensitas tinggi. Serangan dilaporkan menargetkan sejumlah lokasi strategis di Iran sejak akhir Februari 2026.
Meski begitu, Iran tetap mempertahankan sikap konfrontatif. Juru bicara militer Iran, Mohammad Akrami Nia, menegaskan bahwa perang akan berlanjut hingga musuh mencapai titik penyesalan.
“Sampai musuh mencapai titik penyesalan, untuk mencegah serangan di masa depan,” ujarnya dalam pernyataan resmi.
Ia juga menyebut bahwa Amerika Serikat dan Israel belum mencapai tujuan mereka. Bahkan, menurutnya, kedua negara tersebut telah “secara efektif dikalahkan” dalam konflik yang berlangsung.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump justru meningkatkan tekanan dengan mengancam akan menyerang infrastruktur vital Iran, termasuk jembatan dan pembangkit listrik.
“Saya benci melakukannya – tapi kami akan memusnahkannya,” kata Trump kepada wartawan.
Pernyataan tersebut memperlihatkan eskalasi retorika yang sejalan dengan meningkatnya operasi militer di lapangan. Dalam situasi ini, posisi Iran yang menolak gencatan senjata semakin memperjelas arah kebijakan mereka.
Ketegangan yang terus meningkat ini menunjukkan bahwa perbedaan pendekatan antara kedua pihak masih sangat tajam, terutama dalam hal definisi akhir dari konflik itu sendiri.
