Bahasa Kita – Integrasi teknologi pertanian cerdas dinilai menjadi kunci dalam menjawab tantangan kedaulatan pangan global yang semakin kompleks, terutama di tengah tekanan perubahan iklim dan keterbatasan sumber daya.
Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengangkat isu ini dalam forum International Guest Lecture yang menghadirkan akademisi dari Shandong Agricultural University, China. Forum ini menyoroti bagaimana teknologi menjadi fondasi baru dalam sistem pertanian modern.
Dalam paparan utama, Zhang Chao menegaskan bahwa transformasi sektor pertanian tidak lagi bisa dipisahkan dari teknologi digital. Menurutnya, pendekatan konvensional sudah tidak memadai untuk menjawab dinamika global saat ini.
“Sistem kami mampu menghubungkan sensor, drone, dan jaringan digital dalam satu ekosistem terpadu,” ujar Zhang.
Integrasi Sistem Digital Ubah Pola Produksi
Dalam praktiknya, China telah mengintegrasikan berbagai teknologi seperti Beidou Navigation, Internet of Things, Artificial Intelligence, dan platform berbasis cloud dalam sistem pertanian. Integrasi ini memungkinkan pengelolaan lahan dilakukan secara presisi dan berbasis data.
Yang menarik, petani dapat mengontrol berbagai aspek produksi hanya melalui perangkat digital seperti ponsel atau komputer. Artinya, ketergantungan pada tenaga manual mulai berkurang secara signifikan.
Dengan kata lain, teknologi pertanian cerdas tidak hanya meningkatkan efisiensi, tetapi juga memperkuat kemampuan adaptasi terhadap perubahan iklim. Sistem otomatis memungkinkan respons cepat terhadap kondisi lapangan yang berubah.
Zhang menambahkan bahwa kehadiran AI menjadi komponen penting dalam menciptakan sistem pertanian yang lebih berkelanjutan. Hal ini terlihat dari kemampuan sistem dalam mengoptimalkan penggunaan air, pupuk, dan energi.
Model Produksi Sayuran Jadi Contoh Implementasi
Di sisi lain, Xiaoyun Wang memaparkan keberhasilan China dalam mengembangkan industri sayuran melalui pendekatan teknologi. Salah satu metode yang digunakan adalah protected agriculture seperti greenhouse.
Metode ini terbukti mampu memperpanjang masa tanam serta menjaga stabilitas produksi sepanjang tahun. Selain itu, kualitas hasil panen juga meningkat secara konsisten.
“Fokus kita adalah bagaimana sistem teknologi China dapat diterapkan di Indonesia,” kata Wang.
Tak hanya itu, pengelolaan tanah yang terintegrasi juga menjadi faktor pendukung keberhasilan tersebut. Kombinasi antara teknologi dan manajemen sumber daya menjadikan China sebagai salah satu eksportir sayuran terbesar.
Namun pada kenyataannya, penerapan teknologi tersebut tidak bisa dilakukan secara langsung tanpa penyesuaian. Kondisi geografis Indonesia, seperti curah hujan tinggi dan karakter tanah tropis, menjadi faktor penting yang harus diperhatikan.
Kesiapan SDM Jadi Penentu Adaptasi Teknologi
Dalam konteks berbeda, Wakil Rektor IV UMM Muhamad Salis Yuniardi menyoroti pentingnya kesiapan sumber daya manusia dalam menghadapi perubahan global. Ia menilai dunia yang semakin tanpa batas menuntut kompetensi yang lebih luas.
“The world is getting borderless,” ujarnya.
Menurutnya, sektor pangan, teknologi, dan energi akan menjadi penentu masa depan. Oleh karena itu, mahasiswa perlu dipersiapkan untuk mampu bersaing di tingkat internasional.
Dalam kerangka itu, forum internasional seperti ini tidak hanya menjadi ruang pertukaran pengetahuan, tetapi juga sarana memperkuat kapasitas generasi muda.
Yang kerap luput diperhatikan, keberhasilan teknologi pertanian cerdas tidak hanya bergantung pada inovasi, tetapi juga pada kemampuan manusia dalam mengelola dan mengadaptasinya di lapangan.
