Bahasa Kita – Kesehatan mental jemaah haji menjadi perhatian utama Kementerian Kesehatan seiring dimulainya keberangkatan ratusan ribu calon jemaah Indonesia ke Tanah Suci tahun 2026.
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, menyebut tantangan tidak hanya pada fisik, tetapi juga aspek psikologis. Berdasarkan data yang dihimpun, sekitar 10-15 persen jemaah membutuhkan perhatian khusus terkait kesehatan jiwa.
Selain itu, 30-40 persen jemaah dilaporkan mengalami gangguan tidur. Kondisi ini dipicu perubahan ritme sirkadian dan padatnya aktivitas ibadah selama di Tanah Suci.
“Haji adalah puncak spiritual umat Islam, namun di balik makna religius yang mendalam, perjalanan ini juga membawa tantangan besar bagi kesehatan jiwa,” kata Imran di Jakarta, Rabu (22/4).
Kelompok Lansia Paling Rentan
Berdasarkan data Balai Pengobatan Haji Indonesia, kelompok lansia menjadi yang paling rentan mengalami gangguan mental. Bahkan, sekitar 80 persen pasien gangguan jiwa yang dirawat menunjukkan gejala demensia.
Dalam konteks ini, lansia menghadapi tantangan berlapis. Selain kondisi fisik yang menurun, mereka juga harus beradaptasi dengan lingkungan baru yang padat dan dinamis.
Di sisi lain, perubahan cuaca ekstrem di Makkah turut memperburuk kondisi. Suhu yang mencapai 35-38 derajat Celsius dengan kelembapan rendah dapat memicu dehidrasi dan kelelahan.
Faktor Pemicu Tekanan Psikologis
Imran menjelaskan sejumlah faktor yang dapat memicu gangguan mental pada jemaah. Selain cuaca, tekanan juga datang dari aturan baru Pemerintah Arab Saudi.
Penggunaan aplikasi digital Nusuk, pembatasan akses, serta regulasi visa yang lebih ketat menjadi sumber kecemasan, terutama bagi jemaah yang tidak terbiasa dengan teknologi.
Tak hanya itu, aktivitas ibadah seperti tawaf dan sa’i yang intens juga berpotensi menyebabkan kelelahan emosional. Interaksi dalam kerumunan besar turut menambah tekanan psikologis.
Perbedaan budaya dan keterbatasan fasilitas di lapangan juga menjadi faktor tambahan yang dapat memicu rasa frustrasi dan isolasi.
Pendekatan Holistik Kemenkes
Untuk mengatasi hal tersebut, Kemenkes menerapkan pendekatan holistik dalam menjaga kesehatan mental jemaah. Pendekatan ini mencakup persiapan sebelum keberangkatan hingga selama pelaksanaan ibadah.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah konseling prakeberangkatan. Program ini dilengkapi dengan pelatihan manajemen stres dan pengaturan jadwal ibadah agar seimbang dengan waktu istirahat.
Selain itu, perhatian terhadap hidrasi dan nutrisi juga menjadi bagian dari strategi utama. Praktik relaksasi, doa, dan zikir turut dianjurkan untuk membantu menenangkan pikiran.
Dukungan Sosial dan Tim Psikologis
Kemenkes juga menekankan pentingnya dukungan sosial antarjemaah. Kebersamaan dalam kelompok dinilai mampu meredakan kecemasan dan memperkuat kondisi mental.
Di sisi lain, petugas kesehatan haji telah dilengkapi tim khusus untuk menangani masalah psikologis. Tim ini bertugas memberikan respons cepat agar gangguan tidak berkembang menjadi kondisi serius.
“Petugas kesehatan haji kini dilengkapi tim khusus untuk menangani masalah psikologis secara cepat agar tidak berkembang menjadi kondisi serius,” ujar Imran.
Dalam praktiknya, kesiapan mental menjadi faktor penting dalam menjalani ibadah haji. Penataan ekspektasi dan disiplin mengikuti aturan menjadi bagian dari upaya menjaga stabilitas psikologis jemaah selama di Tanah Suci.
