Teddy Indra WijayaSekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya

Bahasa Kita – Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya merespons kritik mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal terkait tingginya frekuensi kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto.

Teddy mengatakan pemerintah menerima berbagai masukan yang disampaikan Dino Patti Djalal.

Ia juga menyebut Dino sebagai diplomat yang memiliki pandangan cermat dan terstruktur.

Sebelumnya, terima kasih atas masukan yang telah diberikan,” kata Teddy melalui akun Instagram Sekretariat Kabinet.

Sangat cermat dan terstruktur. Saya pikir beliau adalah diplomat hebat. Pernah menjadi wakil menteri luar negeri, walaupun hanya diberi kesempatan sekitar tiga bulan,” lanjutnya.

Teddy kemudian menjelaskan sejumlah isu yang menjadi sorotan terkait perjalanan luar negeri Presiden Prabowo.

Teddy Indra Wijaya Sebut Biaya Ditanggung Pribadi

Salah satu hal yang dijelaskan Teddy berkaitan dengan biaya perjalanan luar negeri Presiden.

Menurutnya, biaya tambahan di luar anggaran negara sepenuhnya ditanggung langsung oleh Prabowo Subianto.

Hal ini disebut sudah beberapa kali dijelaskan pemerintah kepada publik.

Jadi yang pertama, masalah biaya di luar negeri. Ini sudah dijelaskan beberapa kali. Jadi, segala kelebihan biaya yang telah dianggarkan oleh negara, itu sepenuhnya ditanggung oleh pribadi Presiden Prabowo,” jelas Teddy.

Di sisi lain, Teddy juga membantah anggapan bahwa rombongan Presiden terlalu besar saat melakukan kunjungan luar negeri.

Ia menyebut jumlah delegasi justru sudah dipangkas lebih dari separuh dibanding pemerintahan sebelumnya.

Jika sebelumnya jumlah rombongan bisa lebih dari 120 orang, kini hanya sekitar 50 hingga 60 orang.

Kemudian yang kedua, jumlah rombongan. Ini sangat penting. Jumlah rombongan Presiden Prabowo itu sudah berkurang besar-besaran,” ujarnya.

Yang jadi sorotan, Teddy juga menyinggung kondisi pada masa lalu ketika jumlah delegasi dinilai jauh lebih besar.

Teddy Jelaskan Jadwal Kunjungan Bersifat Dinamis

Terkait jadwal lawatan luar negeri Presiden, Teddy mengatakan situasi global saat ini sangat dinamis.

Karena itu, jadwal kunjungan tidak selalu bisa ditentukan jauh hari sebelumnya.

Menurutnya, ada agenda tahunan dan ada pula kunjungan mendadak yang menyesuaikan kebutuhan diplomasi.

Perkembangan dunia global itu sangat dinamis, hari per hari,” kata Teddy.

Dalam konteks tersebut, pemerintah menilai hubungan antar pemimpin negara penting dibangun sejak awal.

Teddy menyebut dunia saat ini sedang menghadapi berbagai konflik internasional.

  • Konflik Ukraina
  • Ketegangan di Venezuela
  • Konflik Iran dan Timur Tengah
  • Krisis di kawasan Teluk

Pada saat bersamaan, Indonesia dinilai perlu memperkuat hubungan diplomatik dengan banyak negara.

Menurut Teddy, hubungan pribadi antar pemimpin menjadi bagian penting dalam diplomasi internasional.

Teddy Bantah Lawatan Hanya Seremonial

Teddy juga membantah tudingan bahwa kunjungan luar negeri Presiden hanya bersifat seremonial.

Ia menilai diplomasi membutuhkan kedekatan emosional antar pemimpin dunia.

Dalam praktiknya, hubungan tersebut tidak bisa dibangun hanya saat terjadi krisis.

Kita harus panen hubungan yang baik. Lalu bila suatu saat ada kondisi mendesak, kita bisa minta bantuan, dan begitu pula sebaliknya,” terang Teddy.

Tak berhenti di situ, Teddy menegaskan diplomasi tidak selalu dilakukan secara terbuka di depan publik.

Menurutnya, ada banyak komunikasi penting yang juga dilakukan secara tertutup.

Untuk itu perlu kedekatan pribadi, kedekatan emosional antar pemimpin, baik secara langsung, diliput media, ataupun tertutup. Nah, itulah diplomasi. Jadi salah besar kalau dibilang hanya gagah-gagahan secara seremonial,” tegasnya.

Secara garis besar, Teddy menilai lawatan luar negeri Presiden dilakukan untuk memperkuat posisi diplomasi Indonesia di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian.