Bahasa Kita – Penunjukan Nanik Sudaryati Deyang sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) memunculkan perhatian publik terhadap rekam jejaknya sebelum menduduki jabatan tersebut. Presiden Prabowo Subianto menunjuk Nanik pada 2 Juni 2026 untuk menggantikan Dadan Hindayana setelah evaluasi kinerja selama sekitar satu setengah tahun.
Sebelum menjadi kepala lembaga, Nanik menjabat sebagai Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi. Dalam posisi itu, ia dikenal aktif melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan program dan disebut terlibat dalam penindakan terhadap ribuan dapur SPPG yang tidak memenuhi standar.
Namun, pengangkatannya juga kembali mengingatkan publik pada keterlibatannya dalam peristiwa yang berkaitan dengan kasus Ratna Sarumpaet pada 2018.
Nama Nanik Muncul dalam Persidangan Kasus Ratna Sarumpaet
Peristiwa tersebut bermula saat beredar informasi mengenai dugaan penganiayaan terhadap aktivis Ratna Sarumpaet pada masa kampanye Pilpres 2019.
Berdasarkan fakta yang terungkap dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada 2019, jaksa menyebut Nanik sebagai salah satu pihak yang menyampaikan informasi terkait dugaan penganiayaan tersebut kepada sejumlah tokoh politik.
Tak hanya itu, Nanik juga disebut mengunggah foto wajah Ratna yang tampak lebam ke akun Facebook pribadinya disertai narasi mengenai penganiayaan.
Pada perkembangan berikutnya, informasi tersebut terbukti tidak sesuai dengan fakta. Kondisi wajah Ratna diketahui merupakan dampak dari prosedur operasi kosmetik, bukan akibat tindakan penganiayaan.
Ratna kemudian menjalani proses hukum dan dinyatakan bersalah dalam perkara tersebut.
Nanik Berstatus Saksi dalam Proses Hukum
Yang perlu digarisbawahi, Nanik tidak pernah berstatus sebagai terdakwa dalam kasus tersebut.
Ia menjalani pemeriksaan oleh penyidik dan hadir sebagai saksi dalam proses persidangan. Dalam keterangannya, Nanik menyatakan dirinya merasa telah menerima informasi yang tidak benar dari sumber yang dipercayainya.
Setelah fakta sebenarnya terungkap, unggahan yang sebelumnya dibuat di media sosial juga telah dihapus.
Dalam konteks tersebut, keterlibatan Nanik lebih banyak dikaitkan dengan penyebaran informasi yang saat itu diyakini benar berdasarkan keterangan yang diterimanya.
Meski begitu, peristiwa tersebut kembali menjadi bahan diskusi setelah dirinya dipercaya memimpin lembaga yang memiliki peran penting dalam pengelolaan data dan pelaksanaan program gizi nasional.
Perjalanan Karier Menuju Pucuk Pimpinan BGN
Nanik dikenal sebagai jurnalis senior sebelum aktif dalam sejumlah posisi strategis yang berkaitan dengan pemerintahan.
Kariernya kemudian berkembang melalui berbagai jabatan publik. Ia tercatat pernah terlibat dalam Badan Pemenangan Nasional pada 2019, bergabung dengan BP Taskin pada 2024, menjadi komisaris Pertamina pada 2025, lalu menjabat Wakil Kepala BGN pada tahun yang sama.
Selanjutnya, ia dipercaya memimpin BGN pada Juni 2026.
Yang menjadi sorotan adalah latar belakangnya yang lebih banyak berada di bidang komunikasi dan organisasi dibandingkan bidang gizi atau kesehatan masyarakat.
Transparansi Program Jadi Perhatian Publik
Sebagai pimpinan baru BGN, Nanik akan memimpin lembaga yang mengelola program strategis nasional dengan cakupan penerima manfaat yang sangat besar.
Karena itu, isu transparansi data, pelaporan kondisi lapangan, serta pengawasan pelaksanaan program menjadi perhatian sejumlah pihak.
Secara faktual, rekam jejak Nanik dalam bidang komunikasi publik dan pengawasan menjadi salah satu aspek yang kini mendapat perhatian publik. Sementara itu, tantangan utamanya sebagai Kepala BGN adalah memastikan program berjalan sesuai standar sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat terhadap data dan informasi yang disampaikan lembaga tersebut.
