Film MairaFilm Maira Jangkau 1.500 Pelajar dan Mahasiswa

Bahasa Kita – Film Maira terus digunakan sebagai sarana edukasi kebangsaan bagi generasi muda di berbagai daerah. Hingga saat ini, program nonton bareng yang digelar bersama Sosialisasi Empat Pilar telah menjangkau sekitar 1.500 pelajar dan mahasiswa.

Capaian tersebut menjadi salah satu indikator bahwa pendekatan melalui medium film mampu menarik perhatian generasi muda. Karena itu, MPR RI berencana melanjutkan sekaligus mengembangkan metode serupa agar pesan kebangsaan semakin mudah diterima.

Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menilai pendidikan kebangsaan harus terus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Menurutnya, generasi muda membutuhkan pendekatan yang lebih dekat dengan pengalaman sehari-hari.

Film Maira Menjangkau Sejumlah Kota

Program pemutaran Film Maira telah berlangsung di sejumlah daerah. Kegiatan tersebut antara lain digelar di Palu, Kudus, Jakarta, Tangerang, dan Jember.

Dalam setiap pelaksanaan, peserta tidak hanya menyaksikan film. Mereka juga mengikuti pengantar mengenai Empat Pilar Kebangsaan, sesi refleksi, serta diskusi mengenai berbagai isu yang muncul dalam cerita.

Yang menarik, pendekatan tersebut menghadirkan ruang dialog yang lebih interaktif dibanding metode sosialisasi konvensional.

MPR Nilai Pendekatan Film Efektif untuk Generasi Muda

Lestari Moerdijat
Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdija

Menurut Lestari, keberhasilan menjangkau sekitar 1.500 pelajar dan mahasiswa menunjukkan bahwa film dapat menjadi media yang efektif dalam menyampaikan nilai-nilai kebangsaan.

Selain itu, peserta diajak memahami hubungan antara Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika dengan berbagai persoalan yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam konteks tersebut, Film Maira dipilih karena mengangkat isu lingkungan hidup, hubungan manusia dengan alam, serta keberlanjutan masa depan.

Generasi muda tidak cukup hanya memahami Empat Pilar sebagai konsep normatif. Mereka perlu melihat bagaimana nilai-nilai tersebut hadir dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Lestari.

Sementara itu, para pendukung Film Maira menyambut baik pemanfaatan karya tersebut sebagai sarana edukasi masyarakat. Produser film, dr. Chandra Sembiring, mengungkapkan bahwa film bertema sosial dan lingkungan masih menghadapi berbagai keterbatasan dalam penyebarannya.

Meski begitu, ia berharap semakin banyak kalangan dapat mengakses konten edukatif yang terkandung dalam film tersebut. Dengan demikian, kepedulian terhadap persoalan sosial dan lingkungan dapat terus meningkat.

Di sisi lain, sutradara Anggi Frisca mengakui proses produksi film bertema lingkungan tidak selalu mudah. Bahkan, ia menghadapi tantangan saat mencari pihak yang bersedia mendukung pendanaan proyek tersebut.

Namun, Anggi berharap Film Maira mampu membangun kesadaran publik mengenai pentingnya menjaga hubungan yang sehat antara manusia dan alam.

MPR Kembangkan Metode Edukasi Kebangsaan

Mengacu pada hasil yang telah dicapai, MPR RI berencana terus mengembangkan program pemutaran Film Maira sebagai bagian dari Sosialisasi Empat Pilar. Langkah ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan pendidikan kebangsaan yang lebih relevan.

Tak hanya itu, MPR juga membuka ruang masukan dari para pendukung film untuk memperkuat program serupa pada masa mendatang.

Menurut Lestari, tantangan lingkungan yang terjadi saat ini pada akhirnya akan menjadi persoalan yang diwariskan kepada generasi muda. Karena itu, edukasi mengenai kebangsaan dan kepedulian lingkungan perlu berjalan beriringan.

Generasi muda, hari ini, bukan hanya pewaris masa depan bangsa. Mereka adalah generasi yang akan menentukan apakah bumi yang kita tinggalkan tetap menjadi tempat hidup yang layak bagi generasi berikutnya,” katanya.