deforestasi di indonesia

Deforestasi Kalimantan–Papua Menguat: Indonesia Hadapi Siklus Banjir Baru?

bahasakita.id — Banjir bandang Sumatera 2025, yang menewaskan 744 orang dan mengungsikan lebih dari 1,1 juta jiwa, memperlihatkan satu pola yang sulit dibantah: hubungan langsung antara hilangnya hutan dan meningkatnya risiko bencana hidrometeorologi. Para peneliti menilai situasi serupa kini mengancam Kalimantan, Papua, dan Sulawesi.

Dalam tiga tahun terakhir, deforestasi kembali meningkat. Data Auriga dan FWI menunjukkan kehilangan hutan mencapai 257.384 hektare pada 2023. Kalimantan menjadi episentrum kehilangan, sementara Papua mencatat degradasi hutan dalam skala besar sejak 1990. Sulawesi tak luput, kehilangan puluhan ribu hektare tutupan pohon hanya dalam empat tahun.

Makna ekologis dari kehilangan hutan

Hutan bukan sekadar tutupan vegetasi. Ia adalah sistem penyangga air, pengatur suhu, dan pengendali limpasan. Ketika struktur itu hilang, hujan ekstrem berubah menjadi banjir bandang. “Cuaca ekstrem hanya pemicu awal,” kata Peneliti Hidrologi UGM, Hatma Suryatmojo (3/12/2025). “Kerusakan hutanlah yang memperbesar dampaknya.”

Direktur WALHI Aceh, Ahmad Solihin, menyebut bencana Sumatera sebagai “produk kebijakan permisif.” Sementara WALHI Sumbar menilai lemahnya penegakan hukum membuat deforestasi terus berlangsung.

Pemerintah pusat menyatakan deforestasi netto menurun. Namun anggota DPR RI, Gus Irawan Pasaribu, menyebut kondisi lapangan berbeda. “Jika hutan kami terjaga, kerusakan tidak akan separah ini,” ujarnya, 2/12/2025.

Para ahli menilai Indonesia kini berada dalam ambang siklus baru: kerusakan hutan yang meluas, curah hujan tinggi, topografi terjal, dan lemahnya tata kelola. Tanpa koreksi serius, risiko banjir bandang serupa Sumatera dapat meluas ke Kalimantan, Papua, dan Sulawesi. ***