Kebijakan WFH ASN satu hari per pekan diklaim mampu menekan konsumsi energi, namun efektivitas WFH BBM mulai dipertanyakan ketika logika penghematan diuji dalam praktik yang lebih kompleks.
Pemerintah mengasumsikan bahwa pengurangan mobilitas otomatis menurunkan konsumsi bahan bakar. Dalam hitungan awal, potensi penghematan disebut mencapai 20 persen.
“WFH bisa menghemat seperlima BBM,” ujar Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
Namun dalam kerangka analisis, asumsi ini menyimpan sejumlah celah. Penghematan tidak selalu linear dengan pengurangan perjalanan.
Asumsi Sederhana di Balik Kebijakan
Secara garis besar, logika kebijakan ini bertumpu pada satu premis: semakin sedikit perjalanan, semakin kecil konsumsi BBM.
Namun pada praktiknya, perilaku manusia tidak selalu mengikuti asumsi tersebut. Ekonom energi Fahmy Radhi menilai efektivitasnya sulit dijamin.
Ia menyoroti kemungkinan perubahan pola kerja menjadi Work From Anywhere. Alih-alih tinggal di rumah, pegawai bisa saja bepergian.
“Konsumsi BBM tidak dapat dihemat secara signifikan,” katanya.
Dalam konteks ini, penghematan bergantung pada kepatuhan, bukan sekadar kebijakan.
Efek Substitusi dan Perpindahan Beban Energi
Di sisi lain, analisis tidak berhenti pada BBM. Konsumsi energi bersifat saling terkait. Ketika satu sektor turun, sektor lain bisa naik.
Dosen UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, menyoroti fenomena ini. Ia menyebut terjadi perpindahan beban dari kantor ke rumah.
“Terjadi bukan efisiensi, melainkan sekadar perpindahan beban,” ujarnya.
Dalam praktiknya, listrik rumah tangga meningkat. Pendingin ruangan, perangkat elektronik, dan konektivitas digital menjadi konsumsi baru.
Jika gedung kantor tetap beroperasi, penghematan menjadi semakin kecil. Artinya, efisiensi nasional belum tentu tercapai.
Variabel Sosial yang Terabaikan
Yang kerap luput diperhatikan adalah dampak sosial. Kebijakan ini tidak berdiri di ruang hampa.
Sektor transportasi informal seperti ojek online berpotensi kehilangan permintaan. UMKM penyedia makan siang juga menghadapi penurunan omzet.
Di sisi lain, dunia usaha memiliki karakteristik berbeda. Ketua Apindo, Shinta Kamdani, menegaskan bahwa tidak semua sektor bisa menerapkan WFH.
“Tidak dapat diimplementasikan secara seragam di semua sektor,” ujarnya.
Dalam sudut pandang ini, efektivitas WFH BBM tidak hanya soal angka penghematan, tetapi juga menyangkut kompleksitas perilaku, distribusi energi, dan dampak ekonomi yang menyertainya.
