Kenaikan harga BBM non-subsidi akibat lonjakan minyak dunia memicu pergeseran perilaku konsumsi, di mana subsidi BBM Indonesia berpotensi menjadi pelarian massal di tengah disparitas harga yang melebar.
Dalam konteks tersebut, perubahan ini bukan sekadar reaksi spontan. Ia mencerminkan logika dasar konsumen yang berusaha menekan biaya di tengah ketidakpastian. Ketika selisih harga membesar, pilihan rasional menjadi semakin sempit.
Ekonom Indef, Abra Talattov, menegaskan bahwa kondisi ini akan mendorong masyarakat beralih ke BBM subsidi. “Disparitas harga akan melebar, mendorong masyarakat beralih ke BBM subsidi,” ujarnya.
Logika Ekonomi di Balik Peralihan Konsumsi
Jika ditarik lebih jauh, peralihan ini tidak berdiri sendiri. Ia mengikuti hukum sederhana: konsumen akan memilih alternatif paling murah ketika tekanan harga meningkat.
Dalam praktiknya, subsidi BBM Indonesia menjadi semacam penyangga. Namun, fungsi ini berubah ketika selisih harga terlalu jauh. Subsidi tidak lagi sekadar bantuan, melainkan tujuan utama konsumsi.
Hal ini terlihat dari potensi lonjakan permintaan. Ketika harga non-subsidi naik, permintaan tidak hanya berpindah, tetapi juga meningkat secara agregat.
“Pemerintah akan menghadapi ancaman konsumsi berlebih,” kata Abra.
Di titik ini, konsumsi tidak lagi mencerminkan kebutuhan riil, melainkan respons terhadap struktur harga.
Disparitas Harga dan Distorsi Permintaan
Dalam sudut pandang ini, disparitas harga menciptakan distorsi. Permintaan tidak lagi terdistribusi secara seimbang, melainkan terkonsentrasi pada BBM bersubsidi.
Padahal, pemerintah telah menetapkan kuota jelas untuk 2026:
- Pertalite: 29,7 juta kiloliter
- Solar subsidi: 18,6 juta kiloliter
- LPG subsidi: 8,3 juta metrik ton
Namun pada praktiknya, angka tersebut menjadi rentan terlampaui. Ketika perilaku konsumsi berubah serempak, batas administratif kehilangan daya kendali.
Yang menarik, distorsi ini tidak selalu disadari oleh konsumen. Mereka hanya merespons harga, bukan sistem distribusi yang menopangnya.
Panic Buying sebagai Amplifikasi Perilaku
Tak berhenti di situ, ketidakpastian harga memicu lapisan perilaku lain: panic buying. Ini bukan sekadar pembelian berlebih, melainkan reaksi psikologis terhadap potensi kelangkaan.
“Panic buying dapat mendorong permintaan sangat tinggi,” ujar Abra.
Dalam kerangka ini, konsumsi menjadi tidak proporsional. Bahkan BBM non-subsidi pun bisa mengalami lonjakan karena aksi borong.
Efek lanjutan dari itu adalah tekanan pada distribusi dan pasokan. Sistem yang dirancang untuk stabil justru menghadapi fluktuasi tajam akibat perilaku kolektif.
Pada akhirnya, subsidi BBM Indonesia tidak hanya menghadapi tekanan fiskal, tetapi juga tantangan perilaku yang sulit dikendalikan melalui kebijakan harga semata.
