Atik Jauhari meninggal dunia pada Minggu (8/11/2026) pukul 02.49 WIB di Rumah Sakit Mayapada, Tangerang, dalam usia 77 tahun. Pelatih legendaris bulu tangkis Indonesia dan mantan pelatih Pelatnas PBSI itu wafat karena sakit.
Data keterangan yang mengonfirmasi kabar duka tersebut pada Minggu (8/11). Ketua Komunitas Bulutangkis Indonesia (KBI), Haryanto Arbi, ikut membenarkan informasi itu. “Kak Atik Jauhari wafat Minggu (8/11) pagi ini,” kata Arbi. Ia menyebut keluarga besar KBI merasa kehilangan salah satu pahlawan bulu tangkis nasional.
Atik Jauhari Meninggal Dunia, Disemayamkan di Tangerang
Rumah duka berada di Jalan Sukabakti VI Nomor 29, Tangerang, sebagaimana dilaporkan Waspada.id. Sportszone.id menyebut jenazah dikebumikan di pemakaman keluarga di Cipondoh, Kota Tangerang, pada Minggu siang. Almarhum meninggalkan seorang istri, empat anak, dan lima cucu. Satelitnewscom mencatat bahwa Atik juga dikenal sebagai tokoh masyarakat Kota Tangerang.
Fakta Singkat Atik Jauhari
- Wafat: Minggu, 8 November 2026, pukul 02.49 WIB
- Tempat: Rumah Sakit Mayapada, Kota Tangerang
- Usia: 77 tahun
- Lahir: 14 Agustus 1949
- Peran: mantan pemain nasional dan pelatih Pelatnas PBSI
- Pemakaman: Cipondoh, Kota Tangerang
Perjalanan Atik Jauhari dari Lapangan ke Kursi Pelatih
Atik lahir pada 14 Agustus 1949 dan mengasah kemampuan di klub Blue White, yang kini bernama Mutiara Bandung. Bersama Christian Hadinata, ia menjuarai nomor ganda putra tingkat nasional pada 1971. Duet itu lalu memperkuat Jawa Barat di Seleksi Nasional dan menembus Pelatnas.
Cedera mata akibat terkena smash saat latihan mengakhiri karier bermainnya. Meski begitu, Atik tidak menjauh dari lapangan. Sejak 1974, ia menekuni dunia kepelatihan dan mendampingi pelatih utama Pelatnas di sektor tunggal putra. Liem Swie King, Icuk Sugiarto, Hastomo Arbi, Ardy Wiranata, dan Alan Budikusuma pernah berlatih di bawah arahannya. Di sektor ganda putra, ia menangani pasangan seperti Tjun Tjun/Johan Wahyudi serta Liem Swie King/Kartono.
Emas Atlanta 1996 dan Juara Dunia Glasgow 1997
Puncak prestasi Atik datang pada Olimpiade Atlanta 1996. Bersama Christian Hadinata, ia mengantar Ricky Achmad Soebagdja/Rexy Mainaky meraih medali emas ganda putra. Setelah Hadinata mundur pada akhir 1996, Atik menjabat pelatih kepala ganda putra Pelatnas. Di bawah arahannya, Candra Wijaya/Sigit Budiarto menjadi juara dunia pada Kejuaraan Dunia 1997 di Glasgow. Atik juga ikut membawa Indonesia menjuarai Piala Sudirman 1989 serta Piala Thomas 1994, 1996, dan 1998.
Candra Wijaya mengenang Atik sebagai pelatih yang piawai membaca potensi atlet dan meracik pasangan ganda kompetitif. “Berkat polesan Kak Atik, saya akhirnya bisa berprestasi di level dunia,” kata Candra, seperti dikutip tvOnenewscom. Pada 2023, Daihatsu Yonex-Sunrises Candra Wijaya International Badminton Centre menobatkan Atik sebagai Pelatih Terbaik.
Mengabdi di Swedia, Thailand, India, dan Italia
Pada 1999, Atik meninggalkan Pelatnas dan menerima tawaran melatih tim bulu tangkis Swedia. Tim itu lolos ke putaran final Piala Thomas dan Piala Uber 2000 di Malaysia. Tiga kali ia membawa Swedia menjadi runner-up Kejuaraan Beregu Eropa. Pada akhir 2003, Atik kembali ke Pelatnas untuk menangani ganda putri dan membina Jo Novita serta Greysia Polii.
Atik melatih tim nasional Thailand sejak 2006. Pemain tunggal putra Boonsak Ponsana menjuarai Singapore Super Series 2007 setelah mengalahkan Lin Dan, pemain nomor satu dunia kala itu. Sejak Agustus 2008, Atik memimpin pemusatan latihan nasional India di Hyderabad dan Bangalore. Saina Nehwal berkembang pesat di bawah bimbingannya dan secara terbuka memuji kontribusi Atik. Italia menjadi pos terakhirnya di luar negeri hingga 2013.
Di India, ia juga membenahi kedisiplinan, pola latihan, dan manajemen pembinaan atlet, dari level akar rumput hingga elite.
Warisan bagi Generasi Muda dan Kenangan dari Murid
Setelah mengakhiri karier internasional pada akhir 2013, Atik pulang ke Tanah Air. Ia mendirikan Sekolah Bulu Tangkis Atik Jauhari untuk membina talenta muda. Atik juga tetap aktif di KBI hingga akhir hayatnya.
Ucapan belasungkawa mengalir dari mantan anak didik dan rekan seprofesi. Halim Haryanto, yang kini melatih di Amerika Serikat, menyampaikan duka. Haryanto Arbi dan Candra Wijaya melakukan hal serupa. Herry Iman Pierngadi, rekan sesama pelatih Pelatnas yang kini bertugas di Malaysia, juga menyatakan rasa kehilangan.
Atik Jauhari meninggal dunia setelah puluhan tahun mengabdi bagi bulu tangkis Indonesia dan sejumlah negara lain. Prestasi, disiplin, dan pengabdiannya akan tetap menjadi bagian penting sejarah kejayaan bulu tangkis nasional.