Tekanan rupiah belum mereda meski dolar AS melemah sepanjang pekan. Pelemahan mata uang Garuda lebih dipengaruhi sentimen ekonomi domestik, sementara sejumlah mata uang Asia justru mampu mencatat penguatan.
Tekanan rupiah masih menjadi perhatian pelaku pasar meskipun dolar Amerika Serikat kehilangan tenaga di pasar global. Pelemahan indeks dolar AS sepanjang pekan ternyata belum mampu mendorong mata uang Garuda mencatat kinerja positif secara mingguan.
Berdasarkan data perdagangan pekan ini, rupiah memang berhasil mengakhiri sesi Jumat (3/7/2026) di zona hijau. Namun, secara point-to-point nilainya tetap melemah 0,22% dibandingkan posisi pada akhir pekan sebelumnya.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa arah pergerakan rupiah tidak hanya dipengaruhi kondisi eksternal. Sebaliknya, pelaku pasar juga memberikan perhatian besar terhadap indikator ekonomi Indonesia yang dirilis sepanjang pekan.
Sentimen Domestik Menahan Penguatan Rupiah
Sejumlah data ekonomi menjadi faktor yang membatasi ruang penguatan rupiah. Inflasi Indonesia kembali meningkat pada Juni 2026 sehingga menambah perhatian investor terhadap kondisi ekonomi nasional.
Selain itu, neraca perdagangan Indonesia mencatat defisit untuk pertama kalinya dalam enam tahun. Kondisi tersebut menjadi sorotan karena sebelumnya neraca perdagangan konsisten mencatat surplus dalam periode yang panjang.
Tak hanya itu, aktivitas sektor manufaktur juga masih berada dalam tekanan. Indeks PMI manufaktur kembali turun lebih dalam ke zona kontraksi sehingga memperlihatkan perlambatan aktivitas industri.
Dalam konteks tersebut, kombinasi berbagai indikator domestik membuat pasar tetap berhati-hati. Akibatnya, penguatan rupiah pada perdagangan harian belum mampu mengubah tren pelemahan selama sepekan.
Pelemahan Dolar AS Berasal dari Data Tenaga Kerja
Sementara itu, tekanan terhadap dolar AS berasal dari data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih lemah dibandingkan perkiraan pasar.
Data non-farm payrolls menunjukkan ekonomi Amerika Serikat hanya menambah 57.000 lapangan kerja pada Juni 2026. Angka tersebut jauh di bawah proyeksi ekonom dalam polling Reuters yang memperkirakan penambahan mencapai 110.000 pekerjaan.
Yang jadi sorotan, data tersebut memunculkan pandangan bahwa pasar tenaga kerja Amerika mulai kehilangan momentum. Dampaknya, ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve mulai menurun.
Sebelumnya, sebagian pelaku pasar masih memperkirakan The Fed berpeluang menaikkan suku bunga pada September. Namun, setelah data tenaga kerja dipublikasikan, perkiraan tersebut mulai berkurang sehingga ikut menekan nilai dolar AS.
Mata Uang Asia Bergerak dengan Arah Berbeda
Meski dolar AS melemah, respons mata uang Asia tidak berlangsung seragam. Enam mata uang berhasil menguat, sedangkan empat lainnya masih mencatat pelemahan sepanjang pekan.
Baht Thailand menjadi mata uang dengan performa terbaik setelah menguat 0,54%. Ringgit Malaysia menyusul dengan kenaikan 0,44%, sementara won Korea Selatan terapresiasi 0,39%.
Selain itu, yuan China menguat 0,27%, yen Jepang naik 0,22%, sedangkan dolar Singapura bertambah 0,14% terhadap dolar AS.
Di sisi lain, dolar Taiwan menjadi mata uang dengan pelemahan terbesar sebesar 0,25%. Rupiah berada tepat di belakangnya setelah turun 0,22%, diikuti peso Filipina yang melemah 0,21% dan dong Vietnam sebesar 0,19%.
Pergerakan Rupiah Masih Bergantung pada Sentimen Baru
Perkembangan selama pekan ini memperlihatkan bahwa pelemahan dolar AS belum otomatis mengangkat seluruh mata uang kawasan. Setiap negara tetap dipengaruhi kondisi ekonomi domestiknya masing-masing.
Bagi Indonesia, perhatian pasar masih tertuju pada berbagai indikator ekonomi yang memengaruhi persepsi investor terhadap prospek pertumbuhan. Selama sentimen domestik belum menunjukkan perbaikan, ruang penguatan rupiah dinilai masih terbatas meskipun tekanan terhadap dolar AS mulai berkurang.
