El Nino 2026El Nino 2026 Diprediksi Jadi Terburuk dalam 150 Tahun

Bahasa Kita – El Nino Godzilla diperkirakan muncul dalam beberapa bulan ke depan saat Asia Tenggara masih menghadapi tekanan akibat konflik geopolitik di Timur Tengah. Kombinasi kedua faktor tersebut memunculkan kekhawatiran baru terhadap ketahanan pangan, inflasi, dan stabilitas ekonomi kawasan.

Perkembangan terbaru datang dari Badan Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA) yang memperkirakan peluang kemunculan El Nino mencapai 82 persen pada periode Mei hingga Juli 2026.

Sementara itu, NOAA memperkirakan fenomena tersebut dapat bertahan hingga Februari 2027. Kondisi ini meningkatkan risiko gangguan ekonomi yang lebih luas di negara-negara Asia Tenggara.

NOAA Perkuat Peringatan El Nino Godzilla

Laporan terbaru NOAA menunjukkan suhu permukaan laut di kawasan khatulistiwa Samudra Pasifik bagian tengah hingga timur terus berada di sekitar atau di atas rata-rata sejak pertengahan April 2026.

Data tersebut memperkuat indikasi terbentuknya El Nino Godzilla yang berpotensi memicu cuaca lebih kering di banyak wilayah Asia Tenggara. Akibatnya, sektor pertanian menghadapi risiko penurunan produksi.

Profesor Madya Meteorologi dan Klimatologi Universitas Malaya, Sheeba Chenoli, menilai El Nino Godzilla dapat mengurangi hasil tanaman pangan sekaligus meningkatkan ancaman kebakaran hutan.

Kemunculan super El Nino harus dilihat sebagai peringatan untuk mempercepat adaptasi iklim di bidang pertanian di seluruh Asia Tenggara,” ujarnya.

Konflik Timur Tengah Tambah Tekanan Ekonomi

Yang menarik, ancaman cuaca ekstrem muncul ketika kawasan masih menghadapi dampak konflik geopolitik di Timur Tengah. Ketegangan tersebut telah mendorong kenaikan harga bahan bakar minyak dan pupuk.

Dalam praktiknya, biaya energi yang lebih tinggi membuat ongkos transportasi meningkat. Selain itu, harga pupuk yang lebih mahal menambah beban produksi pertanian.

Akibatnya, petani menghadapi tekanan ganda. Di satu sisi biaya produksi naik, sementara di sisi lain hasil panen berpotensi turun akibat kekeringan.

Negara Asia Tenggara Dinilai Rentan

Ketua Global Heat Health Information Network Southeast Asia Hub, Jason Lee, menilai negara-negara yang bergantung pada sektor pertanian menjadi kelompok paling rentan terhadap El Nino Godzilla.

Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Filipina termasuk negara yang menghadapi risiko besar. Sebab, sebagian besar masyarakat masih bergantung pada hasil pertanian dan perikanan sebagai sumber pendapatan maupun kebutuhan pangan.

Menurut Lee, kembalinya El Nino ke Asia Tenggara bukan sekadar fenomena cuaca biasa. Kondisi ini menjadi ujian bagi sistem ekonomi yang sudah berada di bawah tekanan.

Risiko Pangan dan Inflasi Meningkat

Direktur Segi Enam Advisors di Singapura, Khor Yu Leng, menilai El Nino Godzilla pada dasarnya merupakan cerita tentang inflasi pangan. Cuaca kering berkepanjangan dapat mengurangi pasokan pangan dan mendorong kenaikan harga.

Yang jadi sorotan, beras menjadi komoditas paling sensitif di Asia Tenggara. Gangguan kecil terhadap pasokan dapat memicu pembatasan ekspor, penimbunan stok, hingga panic buying.

Karena itu, harga pangan berpotensi meningkat lebih cepat dibanding kerugian panen yang sebenarnya. Dampaknya dapat dirasakan langsung oleh rumah tangga di berbagai negara kawasan.

Dampak Meluas ke Nelayan dan Petani

Asisten Profesor Adjung Universitas Nasional Singapura, Serina Abdul Rahman, mengatakan El Nino Godzilla dapat memicu efek domino terhadap ketahanan pangan jangka panjang.

Selain mengganggu musim tanam, kenaikan suhu laut juga berpotensi mengubah pola migrasi ikan. Imbasnya, hasil tangkapan nelayan dapat menurun.

Menurutnya, kelompok yang paling terdampak adalah petani dan nelayan yang berada di lapisan bawah ekonomi. Mereka menghadapi biaya hidup yang meningkat ketika produksi pangan justru mengalami tekanan.

Dalam konteks tersebut, El Nino Godzilla dan konflik Timur Tengah menciptakan ancaman berlapis yang dapat memperbesar risiko krisis pangan serta inflasi di Asia Tenggara dalam beberapa waktu mendatang.