bahasakita.id — Pergeseran dan gesekan di tubuh PBNU kembali menunjukkan pola lama organisasi besar: konflik elite tidak selalu menembus lapisan bawah. Pengamat UNIS, Adib Miftahul, menegaskan bahwa friksi yang muncul berada di ruang kepemimpinan. “Kisruh di PBNU ini tidak signifikan mempengaruhi akar rumput,” ujarnya, Senin (24/11/2025).
Adib memotret pola keterlibatan PBNU dalam politik praktis sebagai faktor pembentuk faksi internal. Fenomena serupa pernah tercatat dalam perjalanan ormas besar Indonesia sejak era 1950-an, saat arena politik domestik memengaruhi dinamika internal lembaga keagamaan. Ia menilai daya tarik PBNU kini meningkat karena kemampuan mobilisasi sosial. “PBNU malah lebih seksi daripada partai politik,” katanya.
Di daerah, narasi berbeda muncul. Ketua PCNU Tulungagung, KH Bagus Ahmadi, memastikan semua agenda berjalan. Rapat daring nasional pada Ahad (23/11) bersama Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf dimaksudkan memperjelas hasil Rapat Harian Syuriah PBNU pada 20 November 2025. “Kami belum menerima keputusan final,” ujarnya.
Bagus menekankan pentingnya ketenangan warga NU di tengah dinamika pusat. Ia memastikan struktur MWC dan ranting tetap bekerja. Sementara itu, Gus Yahya menyatakan tidak akan mundur dan mempertahankan kepengurusan hingga akhir masa khidmat setelah bertemu kiai sepuh pada Ahad malam (23/11). (*)
