Literasi digital kini berfokus pada upskilling AI. Nezar Patria menyebut era belajar dasar menggunakan gadget dan internet sudah bergeser.

Literasi digital kini diarahkan pada peningkatan kecakapan digital atau upskilling yang relevan dengan perkembangan kecerdasan buatan (AI). Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menilai masyarakat tidak lagi berfokus pada cara dasar menggunakan perangkat maupun internet.

Literasi digital memasuki babak baru seiring pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Pemerintah menilai pendekatan lama yang berorientasi pada penggunaan perangkat digital sudah tidak lagi menjadi prioritas utama.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengatakan arah program literasi digital kini lebih menitikberatkan pada peningkatan kecakapan digital atau upskilling. Langkah tersebut dinilai lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat di era transformasi digital.

Pernyataan itu disampaikan Nezar saat menggelar audiensi bersama Asosiasi Dosen dan Peneliti Ilmu Komunikasi Indonesia (ADPIKI).

Program Literasi Digital Berubah ke Peningkatan Kecakapan

Menurut Nezar, tantangan teknologi saat ini berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu. Karena itu, materi literasi digital juga perlu menyesuaikan perkembangan zaman.

Jika sebelumnya masyarakat lebih banyak dikenalkan pada penggunaan internet dan perangkat digital, kini fokusnya bergeser pada kemampuan memanfaatkan teknologi secara produktif.

“Program literasi digital sekarang lebih ke upskilling. Meningkatkan kecakapan yang lebih kontekstual dan relevan dengan perkembangan sekarang,” kata Nezar dalam keterangan resminya, Jumat (26/6/2026).

Dengan pendekatan tersebut, pemerintah berharap pengembangan talenta digital dapat berjalan lebih terarah dan selaras dengan kebutuhan industri berbasis teknologi.

Era AI Mendorong Perubahan Strategi

Wakil Menteri Komunikasi dan DIgita (Wamenkomdigi) Nezar Patria
Wakil Menteri Komunikasi dan DIgita (Wamenkomdigi) Nezar Patria

Menurut Nezar, kehadiran kecerdasan buatan menjadi salah satu alasan utama perubahan arah kebijakan literasi digital.

Dalam konteks tersebut, masyarakat dinilai membutuhkan kemampuan yang lebih tinggi dibanding sekadar memahami penggunaan perangkat digital.

Karena itu, peningkatan kompetensi menjadi bagian penting dalam menyiapkan sumber daya manusia yang mampu mengikuti perkembangan teknologi.

Perubahan arah tersebut juga disebut telah menjadi strategi yang dirancang Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).

Selain itu, Kemkomdigi telah menjalankan pendekatan tersebut dalam kurun waktu sekitar satu dekade terakhir sebagai bagian dari pengembangan talenta digital nasional.

Materi Dasar Dinilai Sudah Banyak Diadopsi Platform

Nezar menjelaskan materi mengenai cara menggunakan gawai maupun internet tidak lagi menjadi fokus utama program literasi digital pemerintah.

Menurutnya, edukasi mengenai keamanan digital dan etika bermedia juga kini banyak disampaikan langsung oleh berbagai platform digital melalui kebijakan dan pedoman komunitas.

“Kalau sekarang kayaknya sudah lewat masa itu. Walaupun masih dibutuhkan, tetapi sudah dikerjakan ataupun diadopsi oleh platform-platform lewat community guidelines dan lain-lain,” ujarnya.

Meski demikian, Nezar menegaskan literasi dasar tetap memiliki peran. Hanya saja, pemerintah kini memberikan perhatian yang lebih besar pada peningkatan kemampuan digital yang relevan dengan perkembangan AI dan kebutuhan ekosistem digital saat ini.