bahasakita.id — Uwi tidak sekadar umbi pangan. Dalam sejarah Jawa, ia adalah penanda cara hidup, pengetahuan ekologis, dan pilihan rasional masyarakat sebelum beras menguasai kebijakan dan imajinasi kolektif.
Dalam masyarakat pra-sawah, pangan dipahami sebagai jaminan kesinambungan hidup, bukan komoditas tunggal. Uwi tumbuh tanpa irigasi besar dan kalender tanam ketat. Bersama umbi lain, ia membentuk sistem pangan yang lentur dan adaptif.
Sejumlah kajian menunjukkan bahwa pola konsumsi berbasis umbi berkembang jauh sebelum abad ke-8 M. Diversifikasi menjadi kunci. Tidak ada satu bahan pangan yang mendominasi meja makan. Sistem ini mencerminkan kecerdasan ekologis masyarakat lama.
Masuknya sistem sawah irigasi membawa perubahan bertahap. Beras memperoleh posisi simbolik karena terkait kekuasaan dan distribusi surplus. Namun pada tahap awal, beras belum menggantikan peran umbi sebagai pangan harian mayoritas.
Penjajahan Belanda menjadi titik balik. Pertanian Jawa diarahkan untuk kepentingan ekonomi penjajahan. Padi diprioritaskan, sementara umbi-umbian dianggap tidak efisien. Narasi kemajuan ala Eropa membentuk hierarki pangan yang menempatkan nasi di puncak.
Setelah kemerdekaan, kebijakan pangan nasional memperkuat orientasi tersebut. Beras dijadikan indikator kesejahteraan dan stabilitas. Diversifikasi pangan muncul sebagai wacana, tetapi tidak menjadi arus utama kebijakan.
Padahal, dari sisi gizi dan ekologi, uwi memiliki keunggulan. Umbi genus Dioscorea dikenal adaptif terhadap perubahan iklim dan kaya serat. Fakta ini menjadikan absennya uwi dari kebijakan sebagai persoalan makna dan paradigma.
Ketika dunia merawat uwi sebagai pangan strategis, Jawa justru melupakannya. Proses ini bukan sekadar soal rasa, melainkan penghapusan pengetahuan dan memori budaya.
Membaca kembali sejarah uwi berarti mengurai ulang cara pandang terhadap pangan. Ia membuka pertanyaan mendasar tentang bagaimana bangsa ini memahami ketahanan, keberagaman, dan warisan pengetahuan yang pernah menopang hidupnya.***
