Ddr. Daniel Tjen, SpMayjen TNI (Purn) Dr (H.C) dr. Daniel Tjen, Sp.S, Ketua Dewan Jamu Indonesia

Bahasa Kita – Dewan Jamu Indonesia (DJI) bersama Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif mulai mempersiapkan penyelenggaraan The 2nd Jamu International Conference & Expo (JICE) yang dijadwalkan berlangsung pada Oktober 2026. Agenda tersebut diproyeksikan menjadi momentum besar untuk memperluas promosi jamu Indonesia di pasar internasional.

Kolaborasi itu dibahas dalam pertemuan antara Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya dan perwakilan DJI di Jakarta, Rabu (20/5). Dalam pertemuan tersebut, pemerintah menyatakan dukungannya terhadap pengembangan jamu sebagai produk kesehatan sekaligus bagian dari ekonomi kreatif nasional.

Jamu bukan sekadar warisan tradisi, tapi produk ekonomi kreatif yang punya potensi besar di pasar dunia,” kata Teuku Riefky Harsya.

Menurutnya, pengembangan jamu perlu dilakukan dengan pendekatan yang lebih modern agar mampu bersaing di tingkat global. Karena itu, pemerintah menyiapkan dukungan melalui ekosistem digital, penguatan riset, hingga pengembangan ilmu pengetahuan.

JICE 2026 Gabungkan Konferensi dan Pameran Jamu

The 2nd Jamu International Conference & Expo dirancang sebagai platform internasional yang mengintegrasikan berbagai sektor dalam industri jamu. Kegiatan tersebut tidak hanya menghadirkan konferensi ilmiah, tetapi juga pameran industri dan promosi budaya Indonesia.

Dalam konteks tersebut, JICE 2026 diharapkan menjadi ruang pertemuan antara pelaku usaha, akademisi, peneliti, komunitas, dan berbagai pemangku kepentingan yang terlibat dalam pengembangan jamu.

Ketua Umum DJI Daniel Tjen mengatakan pihaknya ingin melanjutkan keberhasilan penyelenggaraan JICE sebelumnya dengan memperluas kolaborasi lintas sektor.

Berangkat dari kesuksesan gelaran JICE yang pertama, kami berkomitmen untuk terus merajut seluruh pemangku kepentingan guna mengembangkan, melestarikan, dan menduniakan jamu,” ujar Daniel Tjen.

Yang menarik, konferensi tersebut tidak hanya berfokus pada promosi budaya. Di balik itu semua, JICE juga diarahkan menjadi sarana penguatan industri jamu nasional agar mampu memasuki pasar global secara lebih kompetitif.

Dukungan Pemerintah untuk Industri Jamu

Kementerian Ekonomi Kreatif menilai industri jamu memiliki peluang besar untuk berkembang sebagai produk ekonomi kreatif berbasis budaya. Namun pada kenyataannya, tantangan terbesar saat ini berada pada aspek komersialisasi dan monetisasi produk.

Kreativitas budaya kita sudah luar biasa sejak dulu, namun tantangan terbesarnya adalah komersialisasi dan monetize,” kata Menteri Ekonomi Kreatif.

Untuk menjawab tantangan tersebut, pemerintah akan membantu penguatan merek, pemanfaatan hak kekayaan intelektual, hingga perluasan akses pasar melalui platform digital.

Tak hanya itu, promosi jamu Indonesia juga akan diperluas ke pasar internasional. Langkah ini dinilai penting untuk meningkatkan daya saing produk herbal Indonesia di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap produk kesehatan berbasis alami.

Kementerian Ekonomi Kreatif
Kemenekraf Siapkan Jamu Indonesia Tembus Pasar Global

Ekosistem Digital Jadi Strategi Pengembangan Jamu

Dalam praktiknya, pengembangan jamu tidak hanya bergantung pada kualitas produk. Pemerintah menilai ekosistem digital menjadi salah satu kunci penting untuk memperkuat daya saing industri jamu nasional.

Teuku Riefky Harsya menjelaskan bahwa pelaku usaha akan dibantu dalam proses branding dan kurasi produk agar mampu menyesuaikan kebutuhan pasar global.

Melalui ekosistem digital, kita bantu branding dan kurasi produk yang unik agar siap menangkap peluang global tanpa harus panik dalam memenuhi kapasitas produksinya,” katanya.

Sementara itu, DJI menyampaikan apresiasi atas dukungan yang diberikan pemerintah terhadap pengembangan jamu Indonesia.

Kami sangat mengapresiasi dukungan luar biasa dari Kementerian Ekraf yang bersedia berjalan beriringan bersama kami untuk menyukseskan agenda besar ini,” ujar Daniel Tjen.