Cory Erin HardiCory Erin Hardi ditahan KPK usai menjadi tersangka suap proyek pengadaan di Muara Enim

Cory Erin Hardi resmi ditahan Komisi Pemberantasan Korupsi setelah ditetapkan sebagai tersangka pemberi suap dalam kasus dugaan korupsi proyek pengadaan barang dan jasa di lingkungan Pemerintah Kabupaten Muara Enim.

Cory Erin Hardi menjalani penahanan setelah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyelesaikan pemeriksaan terhadap dirinya sebagai tersangka kasus dugaan suap di Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan.

Perempuan yang berstatus sebagai marketing PT Millenium Solusi Abadi tersebut diduga terlibat dalam pemberian suap kepada Bupati Muara Enim, Edison.

Pantauan di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, menunjukkan Cory Erin keluar dari ruang pemeriksaan pada Selasa, 9 Juni 2026 sekitar pukul 13.17 WIB.

Ia mengenakan rompi tahanan KPK berwarna oranye dan berjalan dengan tangan terborgol menuju kendaraan tahanan yang telah disiapkan penyidik.

Selanjutnya, penyidik membawa Cory Erin ke rumah tahanan KPK untuk menjalani proses penahanan sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

Cory Erin Bungkam Saat Digiring ke Mobil Tahanan

Saat meninggalkan ruang pemeriksaan, Cory Erin tidak memberikan komentar kepada awak media.

Sejumlah wartawan sempat mengajukan pertanyaan terkait dugaan suap yang menjerat dirinya.

Namun, Cory Erin memilih langsung berjalan menuju mobil tahanan tanpa memberikan pernyataan.

Sikap tersebut membuat penyidik menjadi satu-satunya sumber informasi yang menjelaskan perkembangan perkara kepada publik.

Yang jadi sorotan, penahanan Cory Erin berlangsung setelah KPK melakukan pemeriksaan intensif terhadap sejumlah pihak yang diamankan dalam operasi tangkap tangan.

Dalam konteks tersebut, penyidik masih terus mendalami peran masing-masing tersangka dalam perkara yang sedang berjalan.

KPK Tetapkan Empat Orang Sebagai Tersangka

KPK menetapkan empat orang sebagai tersangka dalam kasus dugaan suap dan gratifikasi yang berkaitan dengan proyek pengadaan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Muara Enim.

Penetapan tersebut dilakukan setelah pemeriksaan intensif selama 1×24 jam dan gelar perkara yang berlangsung pada Senin malam, 8 Juni 2026.

Selain Cory Erin Hardi, penyidik menetapkan Bupati Muara Enim Edison sebagai tersangka.

Kemudian, Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Muara Enim, Abi Nurwardani, juga masuk dalam daftar tersangka.

Sementara itu, satu tersangka lain berasal dari pihak swasta yaitu Adi Triadi yang diketahui merupakan keponakan Bupati Edison.

Dengan penetapan tersebut, penyidik mulai melakukan langkah lanjutan berupa penahanan dan pendalaman aliran dana yang diduga berkaitan dengan proyek pengadaan.

Tersangka Abi Nurwardan, Adi Triadi Bersama Bupati Muara Enim Edison
Tersangka Abi Nurwardan, Adi Triadi Bersama Bupati Muara Enim Edison

Uang Hampir Rp2 Miliar Diamankan KPK

Dalam operasi tangkap tangan yang berlangsung di Jakarta dan Sumatera Selatan, KPK berhasil mengamankan sejumlah barang bukti bernilai besar.

Penyidik menyita uang tunai dalam beberapa mata uang serta saldo rekening yang diduga terkait dengan perkara.

Total nilai barang bukti yang diamankan mencapai hampir Rp2 miliar.

Menurut informasi yang diungkap KPK, uang tersebut terdiri atas rupiah, dolar Amerika Serikat, riyal, serta dana yang tersimpan dalam sejumlah rekening.

Tak hanya itu, penyidik juga menemukan dugaan penggunaan rekening nominee sebagai tempat penampungan dana.

Rekening tersebut diduga dipakai untuk menyamarkan aliran uang sebelum didistribusikan kepada pihak tertentu.

KPK Temukan Modus Buka-Tutup Rekening

Penyidik menemukan pola penggunaan rekening nominee dalam perkara ini.

Modus yang digunakan berupa pembukaan rekening untuk menampung dana sementara sebelum uang ditarik dan disalurkan.

Setelah dana habis, pelaku diduga membuka rekening baru untuk menjalankan pola serupa.

Dengan kata lain, rekening lama tidak lagi digunakan setelah proses distribusi selesai.

KPK menyebut jumlah rekening nominee yang digunakan lebih dari satu.

Yang menarik, penyidik juga menemukan rekening yang dibuka menggunakan identitas pihak lain.

Beberapa rekening tersebut diketahui menggunakan nama seorang office boy serta pegawai yang berada di lingkungan Pemerintah Kabupaten Muara Enim.

Temuan tersebut menjadi salah satu fokus penyidikan untuk menelusuri jalur pergerakan dana yang diduga berasal dari praktik suap proyek pengadaan.

OTT Digelar di Jakarta dan Sumatera Selatan

Kasus ini bermula dari operasi tangkap tangan yang dilakukan Tim Satuan Tugas KPK pada 7 hingga 8 Juni 2026.

Operasi berlangsung di Jakarta dan Sumatera Selatan secara bersamaan.

Dalam kegiatan tersebut, penyidik mengamankan sepuluh orang.

Mereka terdiri dari lima penyelenggara negara dan lima pihak swasta.

Selanjutnya, KPK melakukan pemeriksaan mendalam terhadap seluruh pihak yang diamankan sebelum menetapkan empat orang sebagai tersangka.

Proses penyidikan masih terus berjalan untuk mengungkap peran masing-masing pihak serta aliran dana yang diduga berkaitan dengan proyek pengadaan barang dan jasa di lingkungan Pemerintah Kabupaten Muara Enim.